Minggu, 13 Februari 2011

Narasi Tentang Kesadaran Hidup Manusia




Tafsir Bencana Alam “Tanda-tanda Alam”
Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini, bencana beruntun melanda seakan menunjukkan bahwa; Sebenarnya manusia hidup diatas sesuatu yang amat sangat tidak aman untuk ditinggali, sewaktu-waktu lapisan tanah yang setiap harinya dipijaki dapat saja terbelah dan menelan apa saja yang ada diatas permukaannya, termasuk manusia itu sendiri. Bahwa pantai yang begitu cantik, sejauh pesisirnya terbentang -- terhampar pasir putih yang teramat cantik -- dibalik airnya yang membiru, hidup berjuta satwa dan keanekaragaman hayati yang tak terhitung jumlahnya. Siapa sangka ombaknya yang biasanya tenang, berubah menjadi ganas dan menelan ratusan ribu nyawa dalam kurun waktu yang teramat singkat. Tsunami, tentu masih sangat akrab ditelinga kita (bagi sebagian orang barangkali masih menyimpan trauma, terutama kerabat korban bencana itu).

Belum lagi redah pedih dan kesedihan dihati. Gempa tektonik, gunung meletus, kebakaran, banjir lahar dingi, banjir bandang, seakan sudah terjaduwal – datang susul-menyusul.

Tidak tanggung-tanggung, manusia pun berdalih ditengah-tengah kemalangan dan ketidak berdayaannya. Krisis ekologi dituduh sebagai penyebab dari segala kesengsaraan itu. Paskah bencana-bencana itu melanda dan menelan korban jiwa. Maka ramailah pemberitaan-pemberitaan dimendia. Media seakan berlomba-lomba menayangkan peristiwa-peristiwa naas itu; “Bencana alam lagi-lagi menelan korban jiwa”. Gejala alam pun disematkan sebagai penyebab hilangnya nyawa manusia -- Siklus alam dituduh dengan semena-mena sebagai penyebab jatuhnya korban jiwa.

Lantas bagaimana dengan banjir musiman yang hampir dipastikan melanda seluruh kota-kota besar di Indonesia dan beberapa kota besar dibelahan dunia, kebakaran yang membumihanguskan rumah-rumah warga, bencana kekeringan dan gagal panen sebagai efek samping dari berubahnya siklus iklim. Tanah yang dulunya subur kini semakin sulit ditanami kecuali dengan menambahkan zat-zat kimia tertentu dalam skala yang besar agar optimalisasi hasil produksi dapat tercapai. Terkesan, alam tak lagi bersahabat bagi manusia. Betulkah, bencana semacam ini merupakan bagian dari gejala alam yang memang sudah sewajarnya terjadi?.

Bagaimana pula dengan bencana Lumpur Sidoarjo, anjloknya Situgintung, lelehan lahar Merapi yang menelan korban lantaran manusia menolak menggunakan akal rasionalnya. Salahkah jika segolongan orang tertentu menyimpan semacam curiga pada tingkat tertentu pula; Bahwa ada semacam kongkalikong yang begitu rumit dan rapi dibalik semua itu – Dan itu semua, cermin dari ketidak pedulian dan ketidak pahaman manusia pada kondisi lingkungannya – manusia gagal membaca tanda-tanda alam.

Kita pun menjadi bingung, mana musibah yang murni disebabkan oleh gejala alam dan mana musibah yang terjadi akibat ulah tangan manusia. Mengutip pernyataan Rousseau (gempa tsunami Lisabon, 1756) “Nature did not build the house which collapsed” (Alam tidak pernah membangun rumah yang runtuh menimpa penghuninya)[i]. Barangkali tafsirnya kurang lebih begini; Alam tidak sedang mengemban tugas untuk mencabut nyawa ummat manusia.  Sekedar contoh sederhana. Akal rasional manusia mengajarkan bahwa; Kebakaran hutan tidak mungkin terjadi begitu saja, ia terbakar bukan karena panas matahari, bukan pula karena ulah binatang nakal semacam naga dalam mitos-mitos film Hollywood yang dapat menyemburkan api dari dalam mulutnya. Pengetahuan rasional dan fakta mengajarkan bahwa tak ada satupun makhluk hidup biologis dimuka bumi ini yang berani bermain-main dengan api kecuali manusi itu sendiri. Dan tentu lebih tidak masuk akal lagi jika ada tumbuhan yang sanggup membakar diri dan sesama tumbuhan yang lain.

Agaknya, tafsir tentang bencana alam yang selama ini kita pahami perlu diluruskan. Gejala alam memiliki konteks yang sama sekali berbeda dengan “bencana alam” (istilah yang menjadi ngetren saat ini) atupun bencana kemanusiaan. Selama ini telah menjadi semacam pemakluman umum dan diterima apa adanya oleh nalar fikir konfensional masyrakat.

Bencana itu tentu persangkutannya adalah manusia, tapi gejala alaman sendiri merupakan faktor  mandiri yang sudah semestinya terjadi apa adanya (sudah dari sananya). Meski saat ini, akibat kecanggihan pengetahuan dan teknologi, manusia sanggup mempengaruhi ataupun melakukan memodifikasi pada alam. Namun apa yang dilakukan oleh manusia hanyalah memodifikasi hukum yang sebenarnya sudah ada. Semisal saja; Hujan, hujan terjadi karena hukum alam memang sudah menggariskan demikian, akan tetapi manusia dan kecanggihan teknologinya dapat saja membuat hujan buatan jikalau itu memang diperlukan – campur tangan itu hanya sebatas menguba jaduwal turunnya hujan.

Berangkat dari kenyataan yang ada. Maka, tidak ada salahnya untuk mengkaji ulang tentang bagaimana sebetulnya hubungan yang ideal (harmonis) antara manusia dengan alam (lingkungannya) – Kalau si kakek tua buta dalam cerita diawal tulisan menamainya “Dua buah piringan timbangan yang saling bergantung pada posisi masing-masing”. Saya sendiri menamainya nalar (kesadaran) manusia.

Biosfir (Lingkungan Hidup)
Sampai saat ini, ilmu pengetahuan paling mutakhir sekalipun belum sanggaup mengungkap/menemukan tempat lain selain biosfir sebagai habitat (lingkungan hidup) bagi seleruh spiesis makhluk hidup yang ada saat ini. Satu-satunya planet dijagat raya yang diketahui memeiliki kehidupan, barulah planet bumi.

Tanah kering, air, serta udara tipis yang menyelimuti bumi sebagai unsurnya. Adapun cakupan wilayahnya sangatlah terbatas. Batasan atasnya merupakan ketinggian maksimum yang dapat dicapai stratosfir, batas bawahnya merupakan permukaan bagian solid tanah yang masih bisa ditambang dan dibor oleh para insinyur.

Materi-materi yang terkandung dalam biosfir (lingkungan hidup) selalu bertukar tempat atau didaur ulang kembali. Misalkan saja, tumbuhan mengambil materi dari tanah berupa unsur-unsur mineral, ketika hewan memakan tumbuhan tersebut maka sebagian dari material yang ada pada tumbuhan berpindah pada hewan, begitulah selanjutnya ketika hewan dimakan oleh manusia atau hewan lain. Bila manusia meninggal maka materi kembali lagi pada tanah. Siklus -- bertukar tempat (daur ulang).

Telah menjadi pemahaman umum bahwa; Di dalam biosfir terdapan materi yang dapat diperbaharui dan juga materi yang tak dapat diperbaharui (tak tergantikan). Materi-materi ini kemudian dieksplorasi, dikelola, dan dimodifikasi sedemkian rupa oleh manusia guna memenuhi kebutuhannya untuk bertahan hidup – kondisi semacam itu sudah terjadi sejak dari masa lampau (nenek moyang manusia yang pertama) hingga manusia jaman sekarang, hanya caranya sajalah yang berbeda.  Di abad moderen, manusia mencipta mesin-mesin -- bekerja menggantikn tenaga manusia yang dinilai sangat terbatas kapasitasnya. Alhasil produksi meningkat secara drastis sekaligus di ikuti oleh krisis ekologi. Ketergantungan mesin pada bahan bakar ternyata memproduksi gas karbon secara massif. Semantara itu, eksplorasi hutan malampaui batas kewajaran.

Revolusi Industri menyumbang manfaat yang sedemikian besar bagi manusia. Penerapan teknologi moderen disegala bidang kehidupan manusia, menjadi jembatan tercapainya penghidupan yang lebih maju; proses produksi dapat dilakukan secara massal, trasformasi informasi dan komunikasi mengglobal. Hanya saja, dampak buruk dari penerapan teknologi ternyata sama kaburnya dengan meramal masa depan ummat manusia itu sendiri. Persoalan semacam ini baru dapat dimengerti belakangan ini, setelah sifat terjang manusia mendapat koreksi yang teramat keras dari alam. Perubahan siklus iklim menimbulkan kecemasan bagi para ilmuan dibidang lingkungan. Ibarat efek domino, perubahan iklim berimbas pada gagal panen – mengancam kelangsungan hidup ummat manusaia.

Belajar dari Alam
Salah satu keajaiban yang dimiliki oleh manusia dan tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk biologis lainnya adalah; Manusia mampu memikirkan diri, dan alam disekitarnya. Si kakek tua buta yang hendak mengembalikan tongkatnya pada alam adalah cermin kadar kemanusiaan yang tak mungkin miliki oleh makhluk biologis lain.

Lantas bagaimanakah manusia menemukan atau membangkitkan fajar sadarannya?.

Dipercaya bahwa, sebelum manusia menemukan potensi dirinya (Fajar Kesadaran). Ada jarak interval waktu yang cukup lama (yang didalamnya melibatkan proses mekanis-biologis yang begitu rumit). Sebagaimana yang di istilahkan oleh sejarawan Arnold Toynbee sebagai “kejatuhan pertama manusia” Peristiwa itu ditandai dengan bermigrasinya nenek moyang manusia meninggalkan rumahnya (berlindung diatas pohon) – Turun ke tanah untuk berkompetisi dengan makhluk hidup yang lain. Dalam konotasi lain; manusia mengalami kejatuhan moral ketika kesadarannya bangkit (makhluk yang sadar, selain berpotensi untuk menjadi makhluk yang baik juga memiliki potensi lain yang sama kadar porsinya yaitu potensi menjadi makhluk yang jahat dan perusak)[ii]

Mitos-mitos kehancuran ummat dimasa lalu; Masa paceklik dijaman nabi Yusuf, Ummat Nabi Nuh yang di musnahkan oleh banjir  mahadahsyat, kaum sodom di jaman Nabih Luth musnah oleh wabah penyakit,  Medium dari semua peristiwa mahadahsyat itu adalah alam. Alam seakan-akan hendak menujukkan suatu pertanda pada manusia.

............
Bukankah, Filsafat sebagai hasil karya kesadaran tertua manusia, pada awal mulanya di ilhami oleh prinsip-prinsip alam. Alam sadar manusia terus berkembang, tidak hanya mencakupi diri dan segala sesuatu yang kasat mata selain dirinya, tapi juga pada suatu entitas yang tak kasat mata (Tuhan). Belakangan, sang didaktik revolusioner Paulo Preire mengidentifikasi alam kesadaran manusia menjadi; kesadaran naif, kesadaran kritis, dan kesadaran mistis.

Jika ingin merubah perilaku, maka rubahlah pola fikir terlebih dahulu. Setali tiga uang dengan pepatah; seseorang tidak mungkin bisa berbuat adil, jikalau ia tidak sanggup adil sejak dari cara berfikirannya -- Seseorang tidak akan mungkin peduli pada diri dan lingkungan disekitarnya, jikalau kepedulian/kesadaran itu bukan berada pada alam fikirnya, melainkan terdapat diluar diri dan lingkungan disekitarnya. Bukankah kepedulian/kesadaran tercermin dari setiap tindakan, maka orang yang tak pernah bertindak adalah orang yang paling miskin kesadaran dan kepedulian. 

Sejatinya seperti apa hubungan yang ideal antara manusia dengan alam (lingkungan hidup) apakah biner, linear, meraut manfaat sebanyak-banyaknya setelah itu mati pada waktunya. Tentu yang dapat menjewab pertanyaan ini adalah manusia itu sendiri, alam hanya sanggup merespon lewat sikapnya yang liar dan cenderung tak bersahabat. Sementara, kesadaran tentu bukanlah sesuatu yang secara otomatis terwariskan lewat genetika atau pertalian darah secara turun temurun. Ia hanya dapat diwariskan lewat pembentukan karakter dan eksplorasi nalar kritis manusia, setelah itu, visi penyadaran yang bermuara pada pemberdayaan bisa bekerja.


[i]   Baca Alam tak pernah membangun rumah. Harian Kompas, 15-september-2007
[ii]  Baca Sejarah umat manusia, hal 29


Daftar Bacaan
  1. Arnold Toynbee, Sejarah Ummat Manusia (Uraian analitis,kronologis, naratif, dan komparatif). Pustaka Pelajar, Yogyakarta 2007
  2. Abdul Munir Mulkhan, Kesalehan Multikutural. Pusat Studi Agama dan Peradaban (PASP) Muhammadiyah, Jakarta 2005
  3. PiÖtr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial. Prenada Media, Jakarta 2004
  4. Denis Collins, Paulo Freire (Kehidupan, Karya & Pemikirannya). Komunitas Apiru bekerjasama dengan Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI), Yogyakarta 1999
  5. Korban lapindo Menyerah, Harian Kompas 6-juli-2007
  6. Reforestasi Global, Harian Kompas 19-juli-2007
  7. transisi Musim kemarau, Harian Kompas 23-juli-2007
  8. Khashiwazaki dan Energi Abadi Kita, Harian Kompas 28-juli-2007
  9. tanggungjawab sosial dan etis, Harian Kompas 23-Agustus-2007
  10. Alam Tak pernah membangun rumah, Harian Kompas 15-September-2007
  11. Kebangkita Moral, Harian Kompas 19-Mei-2008
  12. Manusia “Linuwih” Dalam Reformasi, Harian Kompas 31-Mei-2008
  13. Bahan bakar Air menyalahi Hukum Alam, Harian Kompas 31-Mei-2008
  14. Menakar Rasionalitas Bangsa, Harian Kompas 7-Juni-2008
  15. narasi dan “dogmatisasi”, Harian Kompas 25-Oktober-2008

Rabu, 29 Desember 2010

Keajaiban Teknologi

       

          Ditelpon Pelanggan
     


                                                  
                                          Instalasi Perangkat Baru


                                            Maaf, Jalan Lagi Macet

                                           Belajar Bongkar-Pasang HP



                                              Chat Then Globaling

Selasa, 28 Desember 2010

Humaniora-Teroka di Era Konvergensi


Oleh: Sudarno

The World Is Flat, Merupaka judul sebuah buku yang ditulus oleh Thomas L Friedman (2006), seorang kolomnis Foreign Affairs, The New York Times. Istilah ini kini menginspirasi banyak orang tentang capaian teknologi di bidang informasi dan Telekomunikasi dewasa ini. Dimana, arus perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi kian pesat dan hampir-hampir saja tak terbendung.

Fakta menunjukkan bahwa, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) bermuara pada percepatan disegala bidang dan segala segi kehidupan manusia. Semua serba dipercepat; ruang, waktu, dan teritori dimodifikasi sedemikian rupah sehingga hambatan-hambatan tersebut semakin samar dan terkaburkan. Persoalan teritori wilayah, bahkan bahasa sebagai alat komunikasi itu sendiri, tidak lagi menjadi kendala yang bersifat mustahil untuk ditaklukkan.

Kemajuan teknologi dibidang telekomunikasi ternyata cukup menjanjikan, teruhlah semisal: layanan hiburan yang bersifat real time, semua orang kini dapat berbagi data dan file, ada ruangan untuk bersekolah, area untuk berdiskusi dan konsultasi, akses layanan jasa dan pembayaran (listrik, tolepon dll), transaksi jual-beli, meeting karyawan dan menejer, dan bahkan gedung perkantoran atau sekolah sekalipun dapat saja diletakkan dalam satu genggaman yang praktis dan muda dibawa kemana saja.

Diperkiran, dimasa yang akan datang?, ketika era-konvergensi benar-benar terwujud serta didukung oleh perkembangan perangkat penetrasi yang memadai. Manusia akan menjadi makluk yang Super-mobile. Informasi menjadi barang kamoditi, barang konsumsi, dan kebutuhan dasar setiap individu. Efisiensi waktu semakin tinggi, jarak tidak lagi menjadi penghambat yang signifikan dalam pergaulan dan interaksi antara sesama manusia.

Kamis, 27 Mei 2010

Pondok Telkomsel


Apa yang bakal terlintas dibenak anda?.Bila
ditengah-tengah hiruk-pikuk moderenitas suatu
kota, tiba-tiba saja dibagun sebuah pondok
sederhana bernuansa jadul. Apatah lagi unsur
utama dari material bangunannya adalah bambu
sebagai tiang dan dinding, sedangkan atapnya
berasal dari rajutan daun ilalang.



Itulah “Pondok Telkomsel”. Pondok ini didirikan dalam rangka menyambut
Malang Tempo Dulu (MTD) yang berlangsung dari tanggal 20 – 23, Mei 2010.
Meski penampilannya terkesan sederhana dan jadul, akan tetapi para pengunjung
yang gemar berselancar di dunia maya pasti akan dimanjakan oleh layan teknologi
super canggi masa kini yang tersedia disala satu stand MTD tersebut.


“Sebagai operator penyedia layanan 3G pertama di Indonesia, tentu kualitas dan
kehandalan layanannya telah teruji dan tak dapat diragukan lagi”. Ujar Khairil
salah satu pengunjung stand. Saat kami jumpai. Khairil, yang merupakan
salah satu mahasiswa perguruan tinggi ternama di Malang, sedang menikmati
fasilitas internet gratis yang disediakan oleh Pondok Telkomsel yang memang
disediakan khusus bagi para pengunjung stand (Pondok Telkomsel) di MTD.

Teknologi LTE
 
Sukses dengan program Telkomsel Flash dengan 
akses internet berbasis 3G tercepat di Indonesia 
saat ini. Kini Telkomsel bersiap-siap untuk 
menerapkan teknologi baru yang dikenal dengan
Long Term Evolution (LTE). Pasalnya, teknologi 
yang mulai diuji cobakan oleh Telkomsel sebagai 
operator seluler terbesar di Indonesia saat ini, 
telah mulai berjalan sejak bulan februari lalu. 

Teknologi ini dipandang sebagai salah satu 
teknologi alternatif yang sanggup menjawab 
kebutuhan para pelanggan yang semakin
mengarah pada kebutuhan jaringan berkapasitas 
besar dalam bertrasfer data serta layanan yang
lebih berkualitas dan handal.



15 Tahun, Kiprah Telkomsel
Dalam kipranya untuk memajukan negeri dengan senantiasa melahirkan inovasi kreatif di bidang teknologi telekomunikasi seluler. Telkomsel terus berinovasi dan senantiasa melibatkan masyarakat untuk ikut serta dalam membangun bangsa dan negara. Salah satu contoh kepedulian yang ditunjukkan oleh Telkomsel adalah; Ikut berpartisipasi dalam acara MTD. Dimana, Telkomsel tidak saja sekedar ikut meramaikan acara dengan mendirikan Pondok Telkomsel. Akan tetapi, Telkomsel turut pula berperan sebagai penyandang dana kegiatan yang berlangsung selama 3 tiga hari tersebut.

Berdasar pada tema kegiatan yaitu “Rekonstruksi Budaya Panji”. MTD tidak hanya di setting untuk kembali kesuasana masa lampau, tetapi juga diagendakan untuk menggali nilai-nilai luhur yang erat kaitannya dengan semangat kepahlawanan bangsa (rasa patriotisme bangsa). Yang secara sederhananya dapat diartikan sebagai; Semangat untuk memajukan negeri.

Dengan begitu, generasi sekarang sengaja diajak untuk nimbrung dalam suasana “tempo dulu” yang bersifat rekaan dan imajinatif. Harapannya, Generasi masa kini lebih dekat dan dapat menjiwai sejarah bangsanya. Syukur-syukur jikalau mampu menginspirasi dan menumbuhkan sikap patriotisme yang terpatri di sanubari para generasi baru Indonesia saat ini.



Malang Tempo Dulu
Dalam cakupan regional Malang sendiri. MTD adalah bentuk manifestasi rasa cinta masyarakat Malang terhadap kota kebanggaannya. Terlebih lagi Malang memiliki sejarah yang unik di antara sekian kota-kota lain yang tersebar di santreo nusantara.

Seiring dengan kemajuan moderinitas dan proses moderenisasi masyarakat di perkotaan. Sejatinya, Identitas budaya tidak boleh luntur dan ternodai begitu saja hanya karena iming-iming moderenitas dan segala mimpi kebaruannya. Salah satu tradisi yang patut untuk dijaga dengan baik adalah Tradisi Wayang.



Tradisi Wayang sangat kental dalam budaya Jawa, tapi tradisi ini kini semakin sepih dari peminat. Sangat disayangkan, seni klasik dan tradisional ini semakin langkah dijumpai akibat semakin tergusur oleh perkembangan budaya moderenitas.

Melihat kenyataan dewasa ini, kebanyakan generasi masa sekarang tidak lagi mampu memahami pesan-pesan moral yang tersirat dalam pergelaran wayang. “Anak-anak jaman sekarang semakin kasar-kasar dan enggan mempelajari tutur bahasa yang halus dan lunak-lunak”. Ujur Pak Kirman, salah satu pengunjung MTD yang sedang asyik menikmati pergelaran wayangan saat kami ajak bercakap-cakap.




Bagaimana Merangkul Masyarakat

Meski cuaca tidak bersahabat, tapi antusiasme pengunjung tetap luar biasa. Malahan, lokasi yang membentang sepanjang 1,5 kilometer (Jalan Besar Ijen) menjadi padat oleh pengunjung, terutama di malam hari”. Begitulah tutur salah satu panitia MTD yang menolak untuk kami sebutkan namanya.

"Kami sangat berterimakasih kepada pihak Telkomsel, sebagai sponsorship utama dan partner kerja kami. Acara pun dapat terlaksanan dengan baik. Semoga saja kerjasama semacam ini dapat berlanjut untuk ivent yang sama ditahu-tahun mendatang" Tuturnya lagi diakhir bincang-bincang kami yang singkat. (doc)
























Sabtu, 12 Desember 2009

Sajak "Maling"

Kenapa maling ayam tertangkap?
Ayam ribut-ribut
Kenapa maling kakao tertangkap?
Kakao amis, petugas dapat mengendus


Kenapa maling uang tidak tertangkap?
Duitnya banyak, bisa menyumbat mulut orang
Kenapa maling hukum tidak tertangkap?
Hukum di atas kertas, penagkapan pun diatas kertas

Face Book yang produktif


By: Sam-ka


Tentunya masih santer ditelinga kita tentang fatwa beberapa pemuka agama yang mengharamkan faceBook di pertengan tahun ini. Ditambah lagi dengan beberapa temuan kasus yang terjadi dibeberapa kantoran yang diketahui bahwa produktifitas karyawan menurun akibat asyik bermain faceBook saat jam kerja berlangsung.

Fatwa haram adalah reaksi terhadap fakta, sedangkan karyawan yang tidak produktif, urusannya dengan pihak atasan. Fakta itu sendiri adalah rentetan dari sesuatu peristiwa (aksi). Fakta, jika dikoreksi secara baik dan benar, tentunya akan ada nilai-nilai pembelajaran padanya.

Jumat, 11 Desember 2009

Cerpen "Sial, Kartu ATM-ku Tertelan!"



Stasiun Gajayana. Agustus 2009

Pukul 01.00 siang, saat aku memuntahkan diri dari sebuah angkutan umum yang baru saja melajuh dari arah utara kota. Sekali melihat penampilanku, orang-orang disekitar situ lantas saja paham jikalau aku adalah seorang penakluk gunung. Sisa-sisa lumpur yang telah mengering masih dapat ditemui pada jejak sepatu yang kukenakan. Baju dan celana lusuh oleh noda tanah serta kusut pada bagian tertentu. Sedangkan tas carrier yang menempel pada punggung hampir saja menyamai tinggi badanku – Tinggi badanku kurang lebih 170 cm.

Orang-orang disekitar stasiun antusias membicarakan peristiwa naas yang diperkirakan terjadi dua pekan lalu di Semeru. Aku lebih banyak tersenyum dan irit dalam berkata-kata. Dan hasilnya, orang-orang berhenti juga bergerombol dan menanyaiku. Lantas kumasuki sebuah kotak mungil yang tak jauh letaknya dari pintu utama stasiun.

Sabtu, 14 November 2009

Guru, Jangan Mau Jadi Orang Yang Gaptek!

Gagap teknologi (gaptek) sebetulnya bukan karena persoalan tidak memiliki ilmu, akan tetapi jauh lebih disebabkan oleh ketidak terbiasaan dan kurangnya akses seseorang untuk bersentuhan dengan teknologi. Contoh paling sederhana, Ponsel (HP). Bisa dibayangkan betapa rumitnya mengoperasikan teknologi simpel itu bagi orang yang untuk kali pertama kalinya bersentuhan dengan kecanggihan teknologi.

Berita yang diturunkan KOMPAS online menyatakan bahwa; banyak guru yang gagap teknologi. Kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat guru adalah peletak pondasi dasar dibidang pendidikan bagi para pesarta didik. Terlebih lagi, tren perkembangan dunia dewasa ini diwarnai oleh perkembangan teknologi yang sangat pesat.


Jumat, 13 November 2009

Cerpen "Geng 58"


Syamsul Abdillah, itulah namaku. Terlahir dalam asuhan keluarga yang mapan secara ekonomi, anak pertama dari tiga bersaudara dan satu-satunya sebagai anak laki-laki. Kasih sayang orang tuah yang tertuju padaku melebihi kasih sayang yang diterima oleh tiap-tiap adik perempuanku. Barangkali anggapanku ini amat berlebihan, namun siapapun boleh berangngapan lain dan berbeda tentang persoalan itu padaku.

Dirumah milik ayah-ibuku terbentuk sebuah geng. Teman-temanku sebagai anggotanya memberinya nama “Komunitas 58”. Itu karena plat nomor rumah tempat mangkalnya adalah angka 58.

Sebetulnya aku tidak begitu senang ketika dinobatkan sebagai ketua geng. “Hanya lantara tempat mangkalnya adalah rumah orangtuaku kemudian dengan sereta-merta aku terangkat menjadi ketua”. Tapi belakangan, aku baru tahu bagaimana enaknya menjadi pimpinan. Apalagi dirumah, ayah dan ibuku membebaskan aku sepenuhnya. Hanya sesekali saja mereka menengok gedung tempat mangkal gengku yang letaknya terpisah dari rumah utama itu. Itupun jika aku tidak mereka temukan dikamar tidurku dilantai tiga.

Kebiasaan yang kami lakukan ketika sedang berkumpul adalah cerita sepuasnya, mulai dari yang konyol hingga pada persoalan yang lebih seriuas, misalkan tentang kisah asmara anggota geng, menyelesaikan tugas sekolah. Jika tidak ada topik perbincangan yang menarik maka bermain game dan musik kadang-kadang kami lakukan sampai larut malam. Malahan jika malam minggu tiba, begadang sampai pagi dan barulah tidur ketika matahari menyingsing diufuk timur dan tentunya sehabis menyantap nasi goreng racikan kedua pembantu yang dipekerjakan oleh ayah-ibuku dirumah.

Sabtu, 31 Oktober 2009

Cerpen "Petaka Bermusim"

Oleh; Samudra La-kawan

Mendung pertanda langit sedih, awan gelap pertanda kematian mendekat, angin selatan pertanda banyak jasad yang akan berpisah dengan rohnya. Pelajaran itu datang entah berantah. Anehnya, semua orang dengan cepat memahaminya, tidak hanya orang-orang dewasa dan berpendidikan, tapi bocah-bocah kecil yang belum berusia baliq pun telah paham dengan hikmat. Begitulah potret manusia-manusia kota Angin Mamiri. Cerdas?...

Pukul 16.45...
Besse’ berkali-kali mengitari setiap jendela berkaca bening dirumahnya, kadang-kadang berlari kecil dan kadang pula memahat diri pada ambang jendela-jendela itu. Mengamati lagit yang kian muram.

Disebelah barat. Matahari seperti hendak tertelan awan. Sudah beberapa jam yang lalu awan dari arah timur itu menyerbu langit, membawa petir penggores langit. Langit menjadi rapuh seperti kaca retak. Setelah itu disusul dengan suara mengelegar dan gemuruh panjang, mengalahkan segala kebisingan kota. Sudah beberapa hari akhir-akhir ini Besse’ menjadi pengamat langit yang tekun.

Tepat diatas ubun-ubunnya. Awan raksasa seperti ular naga meliliti cakrawala, mengusik fantasi dan rasa takut kedalam benaknya. Rasa-rasanya, mata awan itu manangkap sosoknya. Agak tergesah ia hampiri setiap jendela dan menjatuhkan gulungan-gulungan gorden. “Mata itu tidak boleh menangkap sosokku”, bisiknya dalam hati.

Meski kain gorden telah menutupi kaca-kaca bening itu, namun perasaan khawatir seakan-akan sanggup menyelinap dari balik kain-kain itu, menjangkau serta merabah bulu-bulu halus disekujur tubuh Besse’.

“Mata itu teramat sakti!. Pastilah mampu menangkap sosokku yang sedang mengintip dari balik gorden ini. Harus bersembunyi!”. Benaknya berkata demikian sambil berlari kecil menuju kamar pengantinnya, mengambil selimut pemberian suami tercinta, lalu ia menutup seluruh tubuhnya.

Dari balik selimut, Besse’ mengintip keadaan. “Belumlah aman!”. Disambarnya simpul-simpul tali pada gulungan kelambu. Pintu-pintu kelambu yang selalu menggantung pada menara-menara dipan kini munutup tabirnya. Kelambu usang serta beberapa tambalan kecil pada dinding-dindingnya. Warisan almarhumah ibunya.

Seusai merapikan pintu kelambu dan mencantolkal beberapa peniti secara tergesah, Besse’ kembali menyelipkan tubuh kedalam selimut tebalnya. Dari balik kegelapan itu, tangan-tangan halusnya menumpuk beberapa buah bantal pada sisi-sisi tubuhnya. Laksana hendak memasang zirah perang.

“Kelambu adalah tameng tersakti dan tak dapat ditembus oleh hantu-hantu penghisap darah, menghalau hantu penyebar penyakit. Segala jenis hantu tidaklah memiliki kesaktian untuk menembus perisai yang bernama kelambu itu”. Begitulah kata ibunya dahulu ketika Besse mungil merengek agar pintu-pintu kelambu dibiarkan tetap tergulung. Sebab, jika pintu kelambu diuntaikan, jadilah Besse kecil terperangkap dalam sangkar kecil berbentuk kubus itu – Tubuh mungilnya selalu kuyup oleh keringat. Ibunya ketika itu tersenyum kecil padanya, lalu meniup ubun-ubunya sebanyak tiga kali, dan menggulung pintu-pintu kelambu itu hingga menggantung pada tempatnya sediakala. Penggalan-penggalan dongeng dikisahkan sebagai pengantar tidur. Ketika Besse kecil telah lelap, hantu-hantu penghisap darah dan penyebar penyakit dihalau keluar dari dalam kelambu dan pintu-pintu kelambu pun disegel.

Labels