Oleh; Sam-ka
Berdirinya Indonesia ditopang oleh; budaya, etnis, suku, bahasa, ras, dan agama yang beragam. Mencermati kondisi yang ada saat itu, maka para founding fathers menetapkan Pancasila sebagai landasan ideologi dan perekat dalam berbangsa/bernegara, agar pertalian itu tetap erat dan merekat maka ditumbuhkanlah rasa cinta (Nasionalisme). Dengan harapan, rasa itu mampu berfungsi sebagai jembatan atas segala perbedaan dan keragaman yang ada, secara adil dan tentunya secara damai pula.
Sejak berdirinya bangsa/negara Indonesia hingga sekarang, beragam tantangan, hambatan, dan bahkan hantaman langsung terhadap tali perekat itu datang silih berganti. Dunia kesejarahan Indonesia mencatat berbagai konflik kelam, bagaimanapun kita generasi sekarang sangat menyayangkan adanya komplik-komplik tersebut. Namun dibalik dari itu semua, ada pelajaran penting yang seharusnya mampu kita garis bawahi secara menonjol, sehingga pelajaran itu tidak terus-terusan berlalu dan terlewatkan begitu saja.
Akar Nasionalisme Kita Hendak Membusuk!
Nasionalisme (Rasa memiliki/Cinta tanah air) merupakan ekspresi suatu individu, kelompok, dan segala elemen yang ada dalam suatu kesatuan bangsa/negara.
Mengapa rasa cinta itu muncul? Atau begini saja, mengapa ketertarikan setiap orang berbeda-beda terhadap benda-benda materi maupun non-materi yang ada disekelilingnya?. Ada yang amat cinta kepada boneka dikamar tidurnya sehinnga setiap mau tidur harus didampingi oleh boneka tersebut. Ada yang amat cinta pada motor, tiap hari terus saja dilap sampai mengkilat. Atau seorang pencinta sejati rela menaklukkan hujan, rela kuyup diguyur hujan, dan rela menderita flu demi cinta sejatinya.
Oleh karena ini adalah persoalan rasa, maka rasa itu kadang kurang dan kadang berlebih. Jika seorang pecinta tadi memiliki rasa yang terlalu berlebihan pada pasangannya maka psikologi sebagai disiplin ilmu menyebutnya posesif. Jika kurang, maka disebut tidak perhatian (careless). Hal seperti itu juga dapat saja terjadi pada sikap nasionalisme yang dianut masyarakat Indonesia saat ini. Paham persatuan, ideologi Pancasila sebagai perekat, dan tentunya nasionalisme itu sendiri dapat saja digantikan oleh semangat individualisme, partikularisme, dan semangat desintegrasi. Terlebih lagi bangsa indonesia sangatlah heterogen dan teritorinya terdiri dari ribuan pulau.