Kamis, 23 April 2009

Fakta Globalisasi

Fakta Globalisasi
(Pengantar diskusi yang disampaikan dalam forum diskusi rutinan Komunitas “58”)

Istilah Globalisasi, pertama kali digunakan oleh Theodore Levitt tahun 1985 yang menunjuk pada politik-ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan.

Beberapa kalangan berpendapat bahwa, akar munculnya globalisasi adalah revolusi elektronik dan disintegrasi negara-negara komunis. Revolusi elektronik melipatgandakan akselerasi komunikasi, transportasi, produksi, dan informasi.

Disintegrasi negara-negara komunis yang mengakhiri Perang Dingin memungkinkan kapitalisme Barat menjadi satu-satunya kekuatan yang memangku hegemoni global. Itu sebabnya di bidang ideologi perdagangan dan ekonomi, globalisasi sering disebut sebagai Dekolonisasi (Ommen), Rekolonisasi (Oliver, Balasuriya, Chandran), Neo-Kapitalisme (Menon), Neo-Liberalisme (Ramakrishnan). Malahan Sada menyebut globalisasi sebagai eksistensi Kapitalisme Euro-Amerika di Dunia Ketiga. (dikutip dari artikel: Globalisasi, oleh RP Borrong). Sebagian lagi berpendapat bahwa meski kata globalisasi belum dikenal, globalisasi telah ada jauh sebelum revolusi eloktronik terjadi.

Berkaca pada sejarah terbentuknya globalisasi, terlepas dari pro-kontra para pakar globalisasi mengenai sejarah globalisasi yang belum terselesaikan hingga sekarang ini. Sesuatu yang sangat menggembirakan adalah dibalik pro-kontra itu, benang merah globalisasi masih menampakkan sosoknya. Globalisasi kemudian diartikan sebagai suatu upaya ummat manusia untuk berinteraksi antar sesamanya yang tidak lagi terkendala oleh jarak, batas-batas ruang dan terciptanya efisiensi waktu. Interaksi itu bisa berupa kerjasama, kompromi, saling bertukar pikiran, berdagang dll. Intinya adalah penciptaan kemudahan-kemudahan, pengurangan bahkan penghapusan kemiskinan dan ketimpangan, serta manusia saling memahami dan mengenal.

Kemajuan teknologi dan informasi sebagai batu loncatan dalam mempercepat laju arus globalisasi. Media Internet sebagai salah satu pondasi globalisasi itu sendiri semakin marak diakses masyarakat dan harganyapun semakin murah. Ketersediaan gatged (Handphone, Labtop) murah dan memadai terus-menerus memperluas jangkauan interaksi manusia, melintasi batas-batas teritori, memodifikasi waktu dan loncatan-loncatan ruang yang semakin menakjubkan. Kesemuanya itu semakin memperlengkap sketsa globalisasi.

Jika boleh menyederhanakan. Globalisasi ibarat sebuah proyek. Oleh karena ia berbentuk proyek maka tentunya memiliki dampak, terlepas dampak yang ditimbulkan mengarahkan menusia pada suatu kemajuan ataukah justru menjerumuskan menusia kedalam kebinasaan dan kemunduran (keterbelakangan). Globalisasi sebagai proyek masa depan jelas akan berhadapan secara terang-terangan dengan aneka macam benturan. Benturan ideologi, moral, budaya, politik, ekonomi, agama dll, tentunya dari benturan-benturan tersebut melahirkan beberapa bentuk sikap. Misalnya; kerjasama, kompromi, ataupun pertentangan.

Pro-Kontra terhadap globalisasi jelas adalah sebuah kewajaran yang alamiah. Akan tetapi sangat disayangkan jikalau Pro maupun Kontra itu muncul atas dasar pertimbangan asa mamfaat semata. Pro ketika melihat efek-efek positif dan Kontra ketika melihat efek negative jauh lebih banyak ketimbang efek positifnya.

Tentunya esensi penyikapan yang benar terhadap globalisasi sangat dibutuhkan, tidak sekedar pada tatanan Pro atau Kontra, akan tetapi memahami globalisasi sebagai suatu proyek manusia secara massal dan mengglobal, tentunya harus dikelola secara massal dan mengglobal pula. Kesadaran individu secara khusus dan kesadaran universal secara umum sangat dibutuhkan.

Fakta justru menunjukkan banyak individu yang tidak menyadari posisi dan peran mereka terhadap globalisasi. Oleh karena ketidak sadaran tersebut, beberapa pihak seperti para pemilik modal mereduksi ketidak sadaran itu kedalam sebuah proyek capital yang dimana masyarakat dikondisikan pada suatu tatanan nilai yang mereka tidak paham akan hakikatnya, parahnya lagi mereka tidak sadar kalau sedang dikondisikan dan dimanfaatkan oleh sekelompok kepentingan tertentu.

Oleh karena globalisasi ibarat sebuah proyek dan tentunya masyarakat dunia adalah bagian dari proyek tersebut maka, proyek globalisasi harus terus menerus dievaluasi. Lewat pembentukan kesadaran secara individu pada khususnya dan penyadaran terhadap masyarakat dunia (global) pada umumnya. Sadar akan posisi, potensi, dan peran masing-masing

Masalah-masalah urgen dan sangat mendesak untuk segera disikapi:
  1. Borderless. Penghapusan batas-batas wilayah teritori dalam cakupan negara
  2. Mengaburnya nilai dan identitas. Adanya budaya meniru yang tidak didasari oleh pemahaman dan kesadaran terhadap apa yang ditirukan
  3. Pengkondisian secara massal dan massif. Globalisasi yang identik dengan Ekonomi-politik mengejawatahkan kepentingan-kepentigan capital yang tercermin dalam korporasi Trans-nasional mengkondisikan masyarakat dunia pada suatu nilai yang sejalan dengan proyek ekonomi-politiknya dan mengeliminasi segala nilai yang dipandang menghambat atau menentang proyek ekonomi-politiknya. Contoh; IMF dan Tragedi kemalangan kaum petani Indonesia pasca krisis 1998. UU penanaman modal yang terlampau liberal dan kebablasan. Isu-isu global (ex; Global warming) yang carut marut tak karuan
  4. Westernisasi ala Amerika. Sebagian kalangan mengartikan globalisasi sebagai manifestasi dari westernisasi ala Amerika, Globalisasi kemudian menjadi identik dengan proyek ekonomi kapitalis, segala sesuatu telah dipandang sebagai komoditi ekonomi (materil). Benarkah globalisasi hanya sebatas itu.



Lampiran

Situs: Wikipedia Online
Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias.

Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas Negara

Pengertian
Kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.

Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.

Ciri globalisasi
Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia.

  1. Perubahan dalam konsep ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
  2. Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
  3. Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
  4. 4.Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.

Kennedy dan Cohen menyimpulkan bahwa transformasi ini telah membawa kita pada globalisme, sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi. Sejalan dengan itu, Peter Drucker menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial.

Teori globalisasi
Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teroritis yang dapat dilihat, yaitu:
Para globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut.

Para globalis positif dan optimistis menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.

Para globalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).

Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasional selama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital.

Para transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai "seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung". Mereka menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif atau, setidaknya, dapat dikendalikan.

Sejarah globalisasi
Banyak sejarawan yang menyebut globalisasi sebagai fenomena di abad ke-20 ini yang dihubungkan dengan bangkitnya ekonomi internasional. Padahal interaksi dan globalisasi dalam hubungan antarbangsa di dunia telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Bila ditelusuri, benih-benih globalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai mengenal perdagangan antarnegeri sekitar tahun 1000 dan 1500 M. Saat itu, para pedagang dari Tiongkok dan India mulai menelusuri negeri lain baik melalui jalan darat (seperti misalnya jalur sutera) maupun jalan laut untuk berdagang.

Fase selanjutnya ditandai dengan dominasi perdagangan kaum muslim di Asia dan Afrika. Kaum muslim membentuk jaringan perdagangan yang antara lain meliputi Jepang, Tiongkok, Vietnam, Indonesia, Malaka, India, Persia, pantai Afrika Timur, Laut Tengah, Venesia, dan Genoa. Di samping membentuk jaringan dagang, kaum pedagang muslim juga menyebarkan nilai-nilai agamanya, nama-nama, abjad, arsitek, nilai sosial dan budaya Arab ke warga dunia.

Fase selanjutnya ditandai dengan eksplorasi dunia secara besar-besaran oleh bangsa Eropa. Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda adalah pelopor-pelopor eksplorasi ini. Hal ini didukung pula dengan terjadinya revolusi industri yang meningkatkan keterkaitan antarbangsa dunia. berbagai teknologi mulai ditemukan dan menjadi dasar perkembangan teknologi saat ini, seperti komputer dan internet. Pada saat itu, berkembang pula kolonialisasi di dunia yang membawa pengaruh besar terhadap difusi kebudayaan di dunia.

Semakin berkembangnya industri dan kebutuhan akan bahan baku serta pasar juga memunculkan berbagai perusahaan multinasional di dunia. Di Indinesia misalnya, sejak politik pintu terbuka, perusahaan-perusahaan Eropa membuka berbagai cabangnya di Indonesia. Freeport dan Exxon dari Amerika Serikat, Unilever dari Belanda, British Petroleum dari Inggris adalah beberapa contohnya. Perusahaan multinasional seperti ini tetap menjadi ikon globalisasi hingga saat ini.

Fase selanjutnya terus berjalan dan mendapat momentumnya ketika perang dingin berakhir dan komunisme di dunia runtuh. Runtuhnya komunisme seakan memberi pembenaran bahwa kapitalisme adalah jalan terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dunia. Implikasinya, negara negara di dunia mulai menyediakan diri sebagai pasar yang bebas. Hal ini didukung pula dengan perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi. Alhasil, sekat-sekat antarnegara pun mulai kabur.

Selasa, 03 Maret 2009

Puisi "Masala"

Masalah
(Sam-ka)

Siapa diantara kita yang tak kenal masalah
Tidak mengetahuai, atau tidak mengerti masalah
Bermasalah atau dipermasalahkan
Tidak bermasalah tapi mempermasalahkan

Masalah, yah...ada banyak masalah
Barangkali kita sendirilah yang bermasalah
Entahlah..., Sebab kita sering-sering mempermasalahkan
Atau, masalah banyak karena kita banyak
Entahlah..., sebab kita juga sering-sering dipermasalahkan
Munkin demikianlah adanya

Bedanya apa? Kita dan Masalah
Menaggulangi masalah atau ditanggulangi masalah
Menciptakan masalah atau diciptakan masalah
Menguasai masalah atau dikuasai masalah
Menyelesaikan masalah atau diselesaikan masalah
Kok mulai bingung aku!

Trus, Apa yang bermasalah
Tanyakan dulu apa yang dipermasalahkan
Siapa yang bermasalah
Tanyakan dulu siapa yang dipermasalahkan
Apa mempermasalahkan apa
Siapa mempermasalahkan siapa
Singkat saja biar simpel. Apa atau siapa masalah itu?
Ah….Sudahlah! Aku bingung membahasnya

Malang, 14-02-09


Senin, 16 Februari 2009

Era-Konvergensi IT dan Telekomunikasi



Era-Konvergensi IT dan Telekomunikasi
(Olah: Sudarno)

The World Is Flat, adalah sebuah judul buku yang ditulus oleh Thomas L Friedman (2006), seorang kolomnis Foreign Affairs The New York Times. Istilah ini kini menginspirasi banyak orang tentang capaian teknologi di bidang informasi dan Telekomunikasi. Arus perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat, hampir-hampir saja tak terbendung. Persoalan teritori wilayah, jarak, waktu, dan bahkan bahasa sebagai alat komunikasi itu sendiri tidak lagi menjadi kendala yang bersifat mustahil untuk ditaklukkan.

Siapa sangka orang Indonesia kini dapat bercakap-cakap dengan orang lain diberbagai penjuru dunia (ex: Amerika) yang tidak hanya mendengar suara saja, akan tetapi wajah bahkan seluruh tubuh secara utuh dapat dihadirkan dalam sebuah percakapan dalam jarak yang mungkin saja, dahulu adala hal yang sangat mustahil untuk terjadi. Bahkan mungkin kenyataan seperti ini hanya ada dan nyata dalam dunia dongeng semata, dimana para tokoh dongennya dapat berkomuniasi secara telepati. Tapi sekarang interaksi seperti itu adalah nyata adanya. Hanya dengan seperangkat PC dan sambungan Online (internet) semata, sebagai prasyarat media komunikasi. Jika menganggap menyediakan PC dan perangkat Online-nya berbiaya mahal. Maka tinggal mengunjungi Warnet, dengan modal sekian ribuh Rupiah saja, siapapun dapat berinteraksi dengan masyarakat dunia.

Namun dewasa ini, ternyata Warnet dengan segala fasilitas eksklusif serta berbiaya yang murah, masih juga dianggap belum cukup memadai untuk melayani kebutuhan manusia dalam berkomunikasi dan mengakses informasi secara memadai dan efisien. Manusia butuh lebih, sesuatu yang jauh lebih praktis ketimbang harus bertandang ke warnet terlebih dahulu, agar bisa berkomunikasi terutama mengakses informasi.

Pada bidang lain, sebut saja telekomunikasi. Perkembangan dibidang ini mencatat rekor yang spektakuler, inovasi-inovasi baru terus bermunculan seiring dengan perkembangan waktu. Industri-industri penyedia perangkat telekomunikasi, baik itu gatget (penetrasi) serta Industri yang berbasis layanan jasa semakin membaik dan ekonomis dari tahun ketahun.

Perangkat-perangkat baru yang terus berevolusi dengan cara yang menjanjikan, menjadikan seluler sebagai perangkat telekomunikasi yang simpel, praktis, dan efisien serta mudah dibawa kemana saja. Alhasil pertumbuhan industri seluler menjadi sektor industri yang tidak kalah menjanjikan ketimbang industri IT (Information Technology).

Namun apa yang terbayang dalam benak kita?, misalkan. Teknologi informasi yang dahsyat itu disatu padukan dengan teknologi telekomunikasi yang super canggih (ITC- Information and Communication Technology) kedalam sebuah perangkat komunikasi. Tarulah misalkan kedalam seluler yang sering kita tenteng kemana-mana. Kadang kala kehadirannya dalam hidup keseharian sering kita lupakan. Ketika deringnya berbunyi sebab ada pesan atau panggilan masuk, barulah kita ingat kalau-kalau kita terus-menerus bersanding dengan teknologi canggih, kemanapun kita pergi.

Mobilitas seperti apa yang akan menunggu kita?, misalkan. Seluler yang tren sebagai icon mobile, mampu menyajikan kedua teknologi tersebut kedalam sebuah perangkat gatget yang simpel, ringan, praktis, dan dapat dibawa kemana saja. Manusia akan saling terhubung tampa sekat ruang dan waktu, bertukar pikiran, berbagi informasi kapanpun mereka mau dan dimanapun mereka berada (live time and real time).

Visi 2015
Mencermati Visi Indonesia 2015 dibidang telekomunikasi, dimana saat ini kemajuan telekomunikasi nasional butuh perbenahan yang memadai dan sesegerah mungkin untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain yang telah jauh melangkah meninggalkan kita. Saat ini, jalur sistem komunikasi dan invormasi yang marak digunakan masyarakat, pada umumnya masih berada pada format terpisah untuk suara, data, teks, dan gambar. Meski teknolonginya sesungguhnya telah mendukung kearah konvergen (3G). Namun fakta lapangan sangat penting untuk dicermati dengan cermat secermatnya. Mencermati kondisi umum masyarakat indonesia sekarang ini, daya saing yang rendah oleh sebab pembangunan potensi manusia (SDM) yang kurang memadai, tidak terkecuali pada kemelekan IT dan Telekomunikasi. Jika kondisi ini terus-menerus terabaikan. Jangankan bercita-cita untuk berkompetisi secara global dapat terwujud. Untuk sekedar barkompetisi secara domestik saja, jelas kita bakal kewalahan dan kapayahan.

Prosfek Konvergensi IT dan Telekomunikasi
Diperkiran, dimasa yang akan datang?, ketika era-konvergensi ini benar-benar terwujud serta didukung oleh perkembangan perangkat penetrasi yang memadai. Manusia akan menjadi makluk yang Super-mobile, informasi menjadi kamoditi, barang konsumsi, dan kebutuhan dasar setiap individu. Efisiensi waktu semakin tinggi, jarak tidak lagi menjadi penghambat yang signifikan dalam pergaulan manusia. Interaksi antara sesama manusia akan meng-global, batas-batas teritori wilah seakan-akan telah kabur bahkan mungkin akan terhapus (borderless). Bahasa tidak lagi menjadi penghalang untuk berkomunikasi secara global.

Layanan hiburan, berbagi data dan file, tempat untuk berdiskusi, ruangan untuk bersekolah, area untuk berdiskusi dan konsultasi, akses layanan jasa dan pembayaran (listrik, tolepon dll), transaksi jual beli, meeting karyawan dan menejer, dan bahkan gedung perkantoran atau sekolah sekalipun ada dalam satu genggaman yang praktis dan muda dibawa kemana saja.

Mungkin uraian tersebut amat terkesan membual!. Tapi, bagaimana dengan India misalkan?. Pasca merdeka dari Inggris, India adalah negara yang sangat miskin. Namun kenyataan sekarang ini sangat jauh berbeda dengan India yang dikenal dulu. India kini memiliki sekumpulan perusahaan-perusahan yang bertempat dikawasan Bhavya dan Bangalore, diman peusahaan-perusahaan tersebut mampu menyediakan tenaga kerja yang handal, kompetitif, dan mampu bersaing dengan tenaga-tenaga ahli dunia (dinegara-negara yang maju dan mapan). Kompetitif, handal ditambah dengan harga jasa mereka yang murah.

Siapa sangka India yang dulu dikenal sebagai negara miskin dapat melaju dengan cepat. India mencapai perkembangan teknologi IT dan Telekomunikasi yang sangat fenomenal dan patut untuk dijadikan cerminan kemajuan saat ini. Kini India identik dengan teknologi IT dan Telekomunikasi. Banyak orang India yang menjadi pakar dan tenaga ahli diberbagai negara. Dan menariknya, mereka tidak mesti harus meninggalkan negaranya untuk bekerja dinegara lain, sebut saja misalkan bekerja di perusahaan dan instansi-instansi di Amerika yang memiliki rantai bisnis yang telah mengglobal seperti Dell, American On Line (AOL), dan tentunya Microsoft yang terkenal itu. Mereka tinggal teken proyek dan dikerjakan dirumah sendiri kemudian setor melalui perangkat teknologi yang canggih. Sanagat praktis bukan!. Contoh lain misalkan di Jepang. Para petani, nelayan, dan peternak melakukan transaksi jual belinya lewat internet. Mereka tinggal bernegoisiasi dan ketika telah bersepakat barang dikirim dan uang ditransfer secara On Line.

Dunia datar ala Thomas L Friedman bersumbu pada perkembangan dan kemajuan teknologi IT dan Telekomunikasi. Siapapun yang ingin menjadi pemain didunia yang semakin mengglobal sekarang ini, maka ia harus menguasai perangkat globalisasi yaitu IT dan Telekomunikasi. Informasi dunia kerja dapat diperoleh dengan mudah, informasi input (alat, material) produksi, searching, outsoursing, menjaring dan mengelola peluang dan lain sebagainya dapan dilakukan denagan media internet.

Bagaimana dengan konteks Indonesia dewasa ini?. Jalan diperkotaan langganan macet, jaduwal masuk sekolah mesti dimajukan untuk mengurangi kemacetan. Biaya pendidikan yang semakin tidak terjangkau oleh banyak kalangan. Akibatnya siswa/mahasiswa lebih banyak berdemo ketimbang belajar, biaya mahal yang tak terjangkau terutama masyarakat kalangan bawah (miskin) menjadikan angka putus sekolah dari tahun ketahun sangat tinggi. Biaya ekonomi tinggi, karena sosialisasi aturan dan infrastruktur yang tidak maksimal. Pemerataan pembangunan dan pembagian kue pembangunan yang tidak merata, dan ada banyak lagi deretan masalah-masalah yang mesti diperbaiki. Meskipun secara sadar, segala persoalan bangsa yang ada sekarang ini jelas tidak dapat diselesaikan hanya dengan sekedar pencapain teknologi IT dan telekomunikasi yang lebih maju dan memadai, namun setidaknya perlu adanya stimulus kearah berkehidupan yang lebih baik lagi ketimbang yang kita miliki sekarang ini.

Pertanyaan yang akan muncul kemudian. Cara seperti apa yang mesti ditempu, sehingga kemajuan tersebut dapat dicapai?. “Era-konvergensi”, ramalan itu begitu menggiurkan!”. Saat ini terpampang dihadapan kita dua opsi, yang bolehlah diibaratkan sebagai jalan tol menuju era-konvergensi IT dan Telekomunikasi. 3G dan WiMAX nama jalannya. Meskipun kedepan tidak menutup kemungkinan akan hadirnya lintasan yang baru dan berbeda dengan kedua lintasan yang ada sekarang ini, ataukah melengkapi salah satu bahkan kedua lintasan tersebut. Namun untuk sementara, 3G dan WiMAX yang paling memungkinkan dan nyata adanya.

Peluang 3G dan WiMAX
Potensi tegnologi 3G dan WiMAX yang sekarang ini hangat diperbincangkan. Sebagian kalangan berpendapat 3G akan tergusur oleh WiMAX yang kabarnya selangkah lebih maju dan lebih canggih. Ada juga yang berpendapat bahwa keduanya dapat berjalan bersama-sama dan saling melengkapi, sebab dari segi infrastruktur 3G meski kalah dalam kemajuan dan kecanggihan teknologi, namun 3G unggul dari segi dukungan perangkat Gatged yang sekarang ini melimpah dipasar, sementara WiMAX baru tersedia pada vendor-vendor tertentu saja dan sifatnya masih sangat langka. Meski isu tentang potensi bisnis antara kedua teknologi ini muncul hampir bersamaan didalam negeri tahun 2001 lalu.

3G dan WiMAX ibarat dua jalan tol yang berbeda namun sama-sama menuju pada stasiun yang sama. Stasiun era-konvergensi IT dan Telekomunikasi, meski spesifikasi diantara keduanya memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Namun keduanya sama-sama menjanjikan untuk dilewati sebagai jalur menuju era-konvergensi. WiMAX secara teori selangkah lebih maju terutama persoalan efisiensi trasfer data dengan kecepatan yang tinggi dan biaya murah serta daya jangkauan jaringannya. Tipi untuk konteks kekinian, penetrasi yang mendukungnya masih sangat langkah. Belum lagi infrastruktur yang mendukung misalkan pemancaran sinyal belum terbangun. Jika mencermati kondisi ekonomi global yang cenderung kearah perlambatan untuk beberapa tahun kedepan. Saya berkesimpulan bahwa keduanya sama-sama memiliki peluang sebab. keduanya sama-sama menjanjikan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Dimasa mendatang, jikalau memang terjadi pertarungan teknologi. Apapun pemenangnya, teknologi jenis apapun yang akan diterapkan bukanlah menjadi persoalan yang krusial sebab perkembangan teknologi dewasa ini cenderung bersifat cepat dan sangat cepat, yang baru melengkapi yang lama, dan tidak jarang juga yang baru mematikan yang lama ataupun sebaliknya (dinamis). Namun kunci dari perkembangan itu terletak pada: (1.) Masyarakat, sejauh mana masyarakat mampu berpartisipasi. (2.) Pemerintah (regulator dalam hal ini BRTI) sedangkan (3.)Industri, cenderung mengikuti arah dan panduan kebijakan Regulator serta animo dan permitaan dari masyarakat.

Dalam konteks sekarang. Hubungan yang terjalin antara regulator dan industri masih cenderung beraroma hubungan vertikal. Harapan sesungguhnya adalah, hubungan antara pemerintah (regulator) dan industri yang berbasis IT dan Telekomunikasi bermetamorfosis secapat mungkin tanpa mengesampingkan kematangan dan tanggung jawab sosial yang diemban Regulator dan industri. Sebab baik elemen pemerintah sebagai regulator (BRTI), industri penyedia barang, jasa informasi dan telekomunikasi, serta masyarakat sebagai konsumen akan sangat harmonis jika pertalian yang ada sekarang ini tersimpul sebagai mitra kerja. Industri tidak merasa terdikte atau dikebiri bisnisnya. Masyarakat terhindar dari praktek-praktek eksploitasi bisnis yang tidak bertanggungjawab. Pemerintah (regulator) mampu bertanggungjawab secara sosial dan hukum.

Hubungan mitra kerja sepatutnya dimulai dengan kerjasama dalam pemilihan jalur (menuju konvergensi) secara profesional dan bertanggungjawab. Kelak, apapun basis sistem teknologi IT dan Telekomunikasi yang akan diterapkan beserta resiko dan rintangannya, dapat diatasi secara bersama-sama. Kekompakan dalam mengeliminasi dan menghindari resiko gagal aplikasi teknologi adalah mutlak adanya. Adapun resiko-resiko nyata yang berpotensi menjadi penghambat tersebut:

  1. Teknologi harus berupa barang atau jasa yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat tanpa membeda-bedakan antara masyarakat kalangan atas dan masyarakat kalangan bawah. Sekmentasi pasar maupun produk adalah hal yang wajar-wajar saja, sebab itu adalah wilaya bisnis (selama dapat dipertanggungjawabkan sacara hukum dan sosial). Namun poin pinting yang harus diperhatikan adalah, akses teknilogi IT dan Telekomunikasi seyogyanya mampu menjangkau seluruh kalangan masyarakat baik yang tinggal diperkotaan terlebih lagi yang tinggal dipelosok-pelosok pedesaan
  2. Masyarakat harus melek teknologi. Seberapapun majunya sebuah teknologi jikalau masyarakat tidak melek teknologi, tentunya kemajuan dan capaian yang ada hanyalah sia-sia belaka. Oleh sebab itu harus ada edukasi secara massif dan bersifat kontinuitas bagi masyarakat. Peluang apapun yang ditawarkan jika masyarakat tidak mampu berperan aktif dan respon terhadap peluang yang ada, maka yang terjadi adalah peluang dan tawaran yang sia-sia.

Sedia payung sebelum hujan
Tren globalisasi sekarang ini adalah mengkondisikan manusia untuk mengikuti segala apa yang dititahkannya. Sedangkat tiang penopangnya adalah teknologi IT dan Telekomunikasi. Memoderenkan sistem IT dan Telekomunikasi dalam negeri tak ubahnya mendeklarasikan diri untuk go-internasional, ikut berkecimpung kedalam kompetisi global. Meski teknologi yang canggih adalah harapan yang nyata untuk mengejar ketertinggalan, akan tetapi penerapan teknologi tanpa pemetaan dan langkah serta kebijakan yang strategis justru akan berimbas pada kemunduran dan kekacauan.

Masyarakat indonesia sebagai masyarakat yang heterogen dan multi kultur, tentunya akan sangat sulit beradaptasi bersama dengan arah gerak globalisasi dewasa ini. Penerapan teknologi pada bidang informasi, disatu sisi adalah kebutuhan yang mesti terpenuhi jika ingin maju dan bersaing secara global, namun pada sisi yang lain informasi yang tidak dikelola secara berimbang justru akan melahirkan sikap resistensi dan berpotensi mencederai persatuan dan kesatuan bangsa (pertahanan dan keamanan).

Globalisasi yang kita kenal sekarang ini cenderung dikecam sebagai westernisasi atau Amerkanisasi. Kecaman itu, tidak hanya datang dari tingkatan domestik akan tetapi ditingkatan internasionalpun, masyarakat dunia cenderung berparadigme kearah itu.

Tren pergerakan dan penyebaran jalur informasi global yang tidak berimbang. Amerika dan baratlah yang menguasai teknologi komunikasi, sehingga wajar-wajar saja jikalau globalisasi cenderung berbau Amerika dan barat. Tapi keti Era-konvergensi betul-betul terwujud. Semua orang dapat membuat, mengelola dan membagi informasi. Sehingga informasi yang kental dengan nuansa sepihak dengan mudah diidentifiksi.

Tentunya, tidak semua informasi layak untuk dikonsumsi secara umum. Kedepannya, penerapan IT dan Telekomunikasi yang konvergen kemungkinan akan sering condong untuk bersinggungan dengan wilayah hukum (jika tidak dikelola secara bijak). Contoh paling kecil adalah UU hak kekayaan intelektual (tingkatan global) dan UU pornografi dan pornoaksi (tingkatan domestik). Meski demikian, IT dan Telekomunikasi yang maju, juga berpotensi dalam mengedukasi masyarakat dan tidak terkecuali dibidang hukum itu sendiri.

Jika mencermati isu tentang konvergensi ini. inti sesungguhnya yang dapat dipetik dari konvergensi IT dan Telekomunikasi tersebut adalah “menciptakan kemudahan-kemudahan”. Kemudahan dalam megakses informasi, berbagi informasi, mengelola dan mengkonsumsi informasi, serta komunikasi yang semakin efisien dan murah. Namun justru karena kemudahan-kemudahan seperti itulah, arah kebijakan IT dan Telekomunikasi yang bertolak pada konvergansi perlu disikapi secara bijaksana dan terbuka demi kemajuan bersama. Kemudahan-kemudahan tidak serta-merta menuju kearah yang positif akan tetapi berpotensi pula kearah sebaliknya

Penerapan konvergansi IT dan Telekomunikasi tentunya tidak akan berjalan mulus, semulus yang kita perkirakan dan rencanakan. Menciptakan perubahan memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun apapun dan seperti apapun tantangannya, kesemuanya itu harus dihadapi dan diselesaikan secara profesional dan bertanggungjawab. Mampukah rancangan itu membawa perubahan yang signifikan?. Waktu dan kerja keras, serta ketekunanlah yang mapu menjawabnya.

Jikalau Amerika, India, Jepang telah menemukan jalan menuju dunia datar mereka, maka bagaimana dengan Indonesia. Sebab, lain AS, lain India, lian Jepang dan lain pula Indonesia. Kedepannya, regulator dan Industri berbasis IT dan Telokomunikasi perlu sesering mungkin untuk duduk bersama. Butuh lebih banyak seminar, penyuluhan-penyuluhan, diskusi, serta berbagai jenis kegiatan lainnya yang bertumpuh pada edukasi masyarakat yang tertinggal dalam penguasaan teknologi. Dengan harapan masyarakat melek teknologi, dan kelak tentunya adalah penguasa teknologi itu sendiri.

Tentu saja, sejauh apapun capaian teknologi jikalau masyarakatnya buta teknologi maka capaian tersebut akan menjadi capaian yang sia-sia saja dan tentu saja tak ubahnya pemborosan yang pada akhirnya adalah bentuk lain dari kegagalan itu sendiri. Tentunya apa yang telah dicanagkan selama ini sangat disayangkan jika nantinya menuju kearah kemerosotan itu.

Apakah jalan yang harus dilalui untuk menuju Era-konvergensi IT dan Teknologi lewat 3G ataukah WiMAX, atau mungkin lewat alternatif yang lain lagi. Jawabannya ada pada seberapa besar peran dan keberhasilan para pendukung untuk masing-masing teknologi dalam mensosialisasikan perangkatnya kepada masyrakat. Masyarakatlah yang akan memilih atas dasar manfaat, fasilitas, layanan, dan harga yang ditawarkan.

Mampukah konvergensi IT dan Telekomunikasi membawa perubahan?. Setiap orang memiliki jawaban yang berbeda-beda!.


Jumat, 09 Januari 2009

Obama dan Tatanan Baru

“Kepercayaan dunia kepada Amerika hanya bisa dipulihkan dengan

Obama dan Tatanan Baru

“…Kepercayaan dunia kepada Amerika hanya bisa dipulihkan dengan diplomasi personal tingkat presiden. Bila saya mengunjungi negeri muslim, Saya akan katakan bahwa saya pemeluk Kristen yang pernah tiggal dinegara dengan penduduk Muslim terbesar didunia. Saya tidak akan membawa paradigma benturan peradaban, tetapi saya berkeyakinan antara Amerika dan Negara-negara itu terdapat banyak sekali kesamaan kepentingan yang dapat dikembangkan bersama….”

Kutipan singkat atas pidato Obama tersebut diatas ibarat cerminan petah perpolitikan AS kedepan. Lewat presiden baru dan kebijakan yang baru, AS seakan-akan berupaya untuk menunjukkan sebuah tatanan dunia yang baru.

Change (We can believe in) sebagai semboyan politik yang menjanjikan adanya babak baru. Obama tampil dengan karisma dan visi yang sangat meyakinan, tidak hanya bagi warga AS yang mendukungnya dalam pemilu akan tetapi masyarakat duniapun ikut terpukau oleh sosoknya yang cerdas serta karismatik.

Harapan baru dikalangan masyarakat dunia dan khususnya masyarakat AS sendiri mencuak secara kental kepermukaan. terlepas dari persoalan dunia yang kini menjadi ganas dan tak bersahabat. Opini publik seakan-akan tergiring pada suatu impian dunia baru, dunia yang lebih ramah dan bersahabat. Masyarakat AS bahkan masyarakat duniapun kini mendambakan tatanan baru, khususnya tatanan ekonomi dan politik yang lebih bersahabat.

Maskipun pemerintahan Obama didukung oleh kemenagan Demokrat yang mencakupi Gedung Putih dan senat serta DPR, namun tetap saja pemerintahannya akan berhadapan dengan rintangan yang besar. Kondisi ekonomi AS dewasa ini adalah PR paling nyata, butuh perbenahan secara cepat dan tepat. Berawal dari krisis subprime mortage disusul oleh kolapnya sistem finansial domestik, dengan cepat merembet keluar keberbagai belahan dunia (krisis finansial global). Kebangkrutan serta krisis bagi perusahaan-prusahaan besar dan Trans-Nasional AS yang berujung pada pemutusan kontrak karja bagi ribuan karyawan (pengangguran). Citra AS sebagai Negara dengan ekonomi digdaya kini telah memudar.

Beberapa kalangan menilai, kemenangan Demokrat atas Repuplik adalah bentuk dari kekecewaan masyarakat AS atas pemerintahan sebelumnya yang terkanal hobi mengangkat senjata ketimbang berdiplomasi dalam menyelesaikan masalah. sebagian kalangan lagi menilai, terpilihnya Barack Obama sebagai presiden kulit hitam AS pertama adalah sebuah fenomena. Amerika sebagai Negara pencetus demokrasi, kini telah benar-benar membuktikan dirinya sebagai pangeran demokrasi -- karakter Obama mampu menampik isu ras yang secara politik merugikan figurnya.

Jajak pendapat BBC World Service yang tersebar di 17 negara mendapati rata-rata dua pertiga dari orang yang dimintai pendapatnya tentang Obama yakin bahwa Obama akan meningkatkan hubungan antara AS dan bagian dunia lainnya. Benarkah harapan seperti itu akan terwujud? Salahkah jika masyarakat dunia berharap? Yang jelas, dibalik sebuah harapan besar, tersimpan kekecewaan yang besar

Obama mewarisi ekonomi yang sakit (krisis), pemanasan global, free trade agreements yang cenderung berat sebelah, kemiskinan dan pelanggaran HAM, perang di Afghanistan, Irak dan konflik di Timur Tengah tempat AS memiliki peran penting, serta puing-puing pembantaian dijalur Gaza. Semua permasalahan itu membutuhkan pemcahan. Mampukah Obama membawa perubahan?


Labels