Jumat, 25 September 2009

Akses Internet dan Targetan 2010



Sepatutnya pemerintah dan swasta melakukan suatu kerjasama yang lebih terpadu dan ter-integrasi dalam mewujudkan proyek internet masuk desa.


Pemerintah tampaknya sangat serius untuk mengajak masyarakatnya melek internet. Dana sebesar Rp1,4 triliun, (Berdasarkan data Depkominfo) dialokasikan khusus untuk mendukung program jaringan internet masuk desa. Dengan targetan program tersebut tuntas pada 2010. Meski untuk kawasan Indonesia Timur belum cukup terintegrasi secara memadai dalam program ini.

Meski begitu, ini adalah awal yang baik. Tentunya selama satu tahun kedepan kawasan barat Indonesia telah selesai garapannya dan pada tahun berikutnya, konsentrasi dapat dialihkan pada kawasan timur yang miskin infrastruktur.

Sementara itu, pesatnya perkembangan layanan internet pada operator seluler semakin menyajikan suatu kenyataan yang amat menjanjikan. Wacana dan isu konvergensi IT dan Telekomunikasi rasanya belumlah lama digulirkan dan masih sangat hangat untuk diperbincangkan. Tanpa dinanya, tau-tau kenyataan itu datang begitu saja mempertontonkan kecanggihannya. Transfer data, audio, video telah dapat dilakukan dengan satu alat saja. Simple, prektis, mobile, dan tentunya murah.

Getol meluncurkan produk berbasis transfer, share, dan interaktif. Operator-operator seluler semakin menunjukkan keseriusannya dalam menggarap visi konvergensi teknologi. Apalagi fendor-fendor elektronik semakin tergiring kedalam suatu persaingan yang kian kopetitif. Tentunya harapan dari kesemua itu adalah masyarakat semakin melek teknologi, punya akses informasi, serta produktifitas yang semakin meningkat dengan adanya akses informasi yang memadai.

Asuransi, Barang Seperti Apakah Itu?

Apa asuransi itu?
Secara sederhana ialah; Sistem meminimalkan resiko kehilangan, kerusakan, dan kerugian atas harta-benda akibat faktor-faktor tak terduga dengan cara menyalurkan resiko tersebut dari seseorang atau badan kepada pihak lain (pengelola asuransi).

Jenis Asuransi
1)Asuransi Umum; asuransi rumah, kendaraan, pabrik, kapal, dsb
2)Asuransi Jiwa; berhubungan dengan jiwa, termasuk di dalamnya asuransi kesehatan, persiapan pensiun, asuransi kecelakaan, asuransi pendidikan, dll. Asuransi Jiwa dibagi menjadi dua: (1) Asuransi Tradisional (2) Asuransi UnitLink

Komponen dasar asuransi
Asuransi ditopang oleh dua komponen dasar, siapapun yang hendak menggunakan jasa asuransi sebaiknya mencermati dua item tersebut dibawah ini:

a)Polis; Perjanjian yang berisi kesepakatan antara pihak tertanggung dengan penanggung berkenaan dengan risiko yang hendak dipertanggungkan.

Polis memuat segala aturan tentang asuransi. Sifat aturannya mengikat kedua belah pihak yang telah bersepakat untuk melakukan kerjasama. Sebagai pengguna (tertanggung) hendaknya mencermati dengan teliti segala item yang terdapat dalam polis tersebut, terutama untuk item Hak dan Kewajiban kedua belah pihak.

b)Premi; Sejumlah uang yang harus dibayar oleh tertanggung guna mendapatkan perlindungan atas objek yang dipertanggungkan.

Bagaimana asuransi bekerja?
Perusahaan menyediakan jasa penanggulangan resiko sedangkan pengguna jasa berkewajiban atas sejumlah premi yang telah disepakati sebelumnya. Dengan begitu; kedua belah pihak terikat kedalam suatu aturan (Polis) yang disepakati secara bersama-sama.

Seberapa pentingkah ber-Asuransi?
Asuransi sama pentingnya dengan upaya mencegah, meminimalkan, dan menghindari resiko kerugian yang tidak terprediksi pada masa yang akan datang. “Ibarat sedia payung sebelum hujan”.

Untuk apa ber-Asuransi?
Mengalihkan resiko tak terduga pada pihak lain.

Benarkah orang berpendapatan rendah tidak tersentuh Asuransi?
Asuransi sangat erat kaitannya dengan kehidupan ekonomi masyarakat sehari-hari. Dewasa ini, asuransi telah mencakupi segala lapisan masyarakat. Meski begitu, masih banyak juga masyarakat yang tidak tahu jikalau jasa asuransi telah menjadi bagian ril dari kegiatan ekonomi mereka sehari-hari. Contoh konkret; Jasa angkutan umum (kereta api, bus, kapal, pesawat terbang, dll).

Umumnya, jenis asuransi yang biasa didapati pada tiket-tiket jasa transportasi adalah asuransi jiwa. Dengan membayar sekian ribu rupiah saja, keselamatan jiwa siapapun telah dipertanggungkan. Namun, ada juga sebagian orang yang memandang sebelah mata terhadap peran dan fungsi asuransi.

Sebetulnya; faktor pengetahuan yang minim tentang asuransi sajalah yang menjadikan masyarakat enggan untuk berasuransi.

Tips bijak memilih asuransi
1) Pilih sesuai dengan kebutuhan
Asuransi adalah produk jasa, ada banyak jenis jasa yang ditawarkan oleh asuransi dewasa ini. Oleh sebab itu, seorang calon pengguna jasa asuransi yang bijak sepatutnya memahami secara terperincih tentang jenis jasa apa saja yang menjadi kebutuhannya.

2) Jangan sungkan untuk berkonsultasi
Konsultasi dapat dilakukan dengan siapapun selama yang bersangkutan memiliki pemahaman yang baik tentang asuransi, cara kerja asuransi, dan jenis-jenis produk asuransi yang telah ada.

Umumnya, perusahaan asuransi telah menyediakan jasa konsultasi bagi siapapun yang hendak mengetahui informasi seputar asuransi.

3) Tidak ada salahnya memperbandingan produk layanan!
Setiap perusahaan asuransi memiliki spesialisasi produk. Konsumen sendiri memiliki kebebasan secarah penuh untuk memilah, memilih, dan memutuskan. Kapan, apa, dan kepada siapa ia hendak membeli?.

4) Cermati baik-baik aturan pertanggungan (Polis) serta jumlah Premi yang mesti anda bayarkan secara berkala.
Pahami cara kerja Polis serta besaran beban premi yang menjadi tanggungan anda sebelum melakukan penandatanganan kontrak pertanggungan dengan pihak pengelola Asuransi. Dengan begitu, anda dapat terhindar dari resiko gagal bayar dikemudian hari.

Sabtu, 29 Agustus 2009

Sajak "Klise dan seksi"

Analog terlampau rumit dipergunakan akhir-akhir ini
Barangkali, orang-orang terlampau sering berhadapan dengan kekerasan, makanya suka yang lunak-lunak

Barangkali juga terlampau banyak yang mesti dipencet-pencet, sedangkan jari tangan cuma sepuluh batang

Kalau ada yang simpel, mengapa susah-susah!
Kalau ada yang cepat, kenapa tidak!

Korupsi, masalah klise
Pendidikan, alasan klise
Kemiskinan, persoalan klise

Sekarang jamannya digital, Orang tidak tertarik lagi dengan klise
Barangkali, Klise sepatutnya jadi pajangan saja
Dengan begitu nilai jualnya menjadi mahal
Oleh karena itu pula, ia tampak seksi dimata orang-orang

Korupsi, seksi!
Pendidikan, seksi!
Kemiskinan, seksi!
Terlalu...!

21-08-09, malang

Cerpen "Stigma"

Oleh: Sam-ka

Suatu senja, ketika langit sore yang merona berganti dengan gelap, menjalar dengan cepat keseluruh daratan disebelah timur. Alam menggulung terang, berganti gelap dalam kurun waktu yang singkat. Lampu-lampu disetiap rumah-rumah berkadip-kedip untuk pertama kalinya hari itu, mula-mula seperti nyala kunang-kunag dari kejauhan, berselang beberapa saat kemudian, lampu-lampu itu berpijar laksana gugusan bintang dimalam hari pada pertengahan musim kemarau.

Kota menjadi sangat menawan dalam balutan malam dan embun tipis yang berpadu dengan sinar-sinar mungil dari ribuan bola kaca yang menebar pijar keseluruh pelosok kota. Tiang-tiang lampu antik peninggalan rezim yang telah lampau menggantung bola-bola cahaya itu menyusuri jalan protokol, memanjang menyerupai sungai cahaya yang menghubungkan sisi barat dan sisi timur kota. Kota tua yang menyimpan banyak kenangan. Kenangan antara pribumi dan para penjelajah samudra dari arah barat kota, orang-orang dengan kebiasaan hidup menjarah dan menjarah.

Lalu lintas tampaknya lancar malam ini.

Sambil menghisap dalam-dalam sepuntung rokok untuk menghangatkan badan, sosok itu bergerak menuruni lereng bukit dibantu dengan nyala api kecil yang bersumber pada korek bermerek impor kesayangannya. Hampir sebulan sekali ia mengunjungi tempat-tempat yang berdaratan tinggi untuk melepas segala penak yang mengisi rutinitas sehari-harinya yang padat dengan aktifitas.

Kadang-kadang ia mencelah diri sendiri atas segala rutinitas hidupnya yang cukup membosankan, kerja keras demi penghidupan yang lebih layak, tapi setelah yang dicita-citakannya sejak dahulu telah ia capai. Seiring dengan perjalan waktu, sesuatu yang lain justru menghampiri tatkala puncak kejayaan semakin dekat untuk ia raih. Hidup hambar tampa gairah, kehilangan yang tak tergantikan. Seperti itulah kira-kira hidup yang ia jalani saat ini.

“Sial!, hapir seluruh hidupku habis hanya untuk mengejar uang dan uang. Mengejar kemewahan yang sebetulnya hanya perwujudan lain dari kualitas hidup yang murahan”.

Dalam kesal ia terus saja menuruni bukit menuju lereng. Nafasnya tidak beraturan akibat bau lembab tanah serta aroma lumut yang tumbuh liar diatas bebatuan yang tandus menusuk-nusuk kedalam hidungnya, bau seperti itulah yang paling ia benci. Bau busuk tanah seakan berkata padanya jikalau maut telah semakin dekat hingga kedalam ubun-ubunnya. “Sebentar lagi!, dan pasti akan datang, mungkin dalam waktu yang tidak begitu lama lagi, tubuhnya akan terbujur kaku, sekaku peti mati yang akan menghantarkan dirinya ketanah peristirahatan. Barangkali telah ada belatung yang menunggunya disana”.

Betapa sendirinya aku!, barangkali tidak seorangpun yang berkabung dengan kepergianku nantinya?.

Minggu, 09 Agustus 2009

Sajak "Andai Aku Presiden"


Andai Aku Presiden
Oleh; Sam-ka

Masa Kampanye...

Andai Aku jadi presiden, kubangun jalan yang luas seperti samudra Hindia pada lajur kiri dan samudra Pasifik pada lajur kanan, biar ngak macet lagi

Andai aku jadi presiden, kubuka lapangan kerja seluas-luasnya, biar tidak pengangguran lagi

Andai aku jadi presiden, kudirikan sekolah yang banyak, biar tidak putus sekolah lagi

Hei kalian! Dukung saya jadi presiden



Visi-misi

Andai aku presiden, kubelah Jakarta menjadi beberapa ribu bagian, setelah itu kubagi ke semua pulau dengan adil

Andai aku presiden, kutanam padi, jagung, dan tela diatas gedung-gedung percangkar langit, ketika masa menuai tiba, hasil pastilah jatuh kebawah menjangkau semua orang, tinggal menengadakan tangan saja.

Andai aku presiden, kugali emas, minyak, batu permata dan segala isi bumi pertiwi, setelah itu kusodorkan kehadapan semua orang biar tiap-tiap orang mendapat haknya

Makanya! Pilihlah saya jadi presiden



Perhitungan Suara

A-n-d-a-i a-k-u p-r-e-s-i-d-e-n

Ah sudahlah!, toh aku ini bukan presiden

08-08-09, Malang

Sabtu, 25 Juli 2009

“Keraguan & Kegelisahan”

“Keraguan & Kegelisahan”

Keraguan, jembatan menuju keyakinan

Jembatan yang teramat indah!

Kegelisahan, jembatan menuju ketenteraman

Jembatan yang teramat kokoh!


Keraguan ibarat rumah yang teramat indah, Namun amat buruk untuk ditinggali

Kegelisahan ibarat kastil berlapis baja, Namun amat tidak nyaman untuk didiami

Keraguan dan kegelisahan dibutuhkan pada waktu-waktu tertentu.

Namun, amat tidak baik memelihara keduanya dalam jangka waktu yang lama

Malang, 05-07-09

Kamis, 02 Juli 2009

Parodi

Kontrak politik
Oleh; Sam-ka

Akhir-akhir ini kata-kata kontrak terlalu bising ditelinga saya. Tapi tidak tahulah dengan para pembaca. Pemilik rumah tempat saya tinggal saat ini mengultimatum saya tentang beberapa minggu lagi kontrakan saya expired. Perusahan tempat saya bekerja pun tidak terlalu jauh berbeda, bulan depan masa kontrak saya selesai, berarti bulan depan saya adalah penganguran. Cukup mengenaskan. Duh…betapa tidak mengenakkannya terikat oleh sesuatu yang bernama kontrak.

Kalau tetangga saya ceritanya lain lagi, sibuk memperpendek status pernikahan mereka yang baru akan kadar luarsa dua bulan mendatang. Hal itu saya ketahui, setelah menerima secarik kartu undangan tadi malam.

Ceritanya begini, Mr. Kontrak dan Mrs. Kontrak terlibat dalam kepartaian yang berbeda, oleh karena alasan kontrak pula Mr. dan Mrs. Kontrak membubarkan kontrak keluarga mereka yang telah berjalan sejak 20 tahun silam. Lucunya lagi, mereka menamakan kontrak itu “Kontrak Lima Tahun”. Hua…ha…ha. Namanya lucu, seperti wajah Mr dan Mrs Kontrak yang tercetak pada kartu undangan. Lucu dan imut-imut, kartu itu sampai kusut-kusut aku cubiti dan perutku sampai sakit menertawakan wajah-wajah yang tercetak disitu.

Kalau dengar-dengar dari kabar angin, mereka telah bersepakat untuk membuat kontrak. Persisnya kurang lebih seperti ini; Lima tahun mendatang, kontrak keluarga baru boleh dilanjutkan. Lah bagaimana kalau hidupnya keburu game over?, wajah sudah bauh tanah begitu. Tapi tidak tahulah kalau mereka sudah mengadakan kontrak dengan Tuhan. Ah… dasar Mr. dan Mrs. Kontrak, segalanya tergantung kontrak.

Bagaimana kalau kukontrak saja putrinya yang cantik jelita itu? sapaku saat tidak sengaja berpapasan dengan mereka tadi pagi. Mr. dan Mrs. Kontrak cuma senyum-senyum kecil, tampaknya mereka telah sepakat kalau kontrak baru bole diadakan setelah lima tahun mendatang. Aih itu waktu yang terlalu lama bagi bujang lapuk seperti saya.

Sorenya. Mr dan Mrs Kontrak terlibat uring-uringan kesetiap rumah warga. Tentunya dalam kelompok yang berbeda. Kamar kontrakan saya pun tak luput dari uring-uringan mereka. Untungnya saya pandai bersilat lidah, mereka sama-sama hendak membuat kontrak. Ah… kutepis saja kontrak itu sebab menerutku tidak menguntungkan. Kontrak yang menguntungkan bagiku adalah putri semata wayang mereka yang cantik jelita itu. Adu mulutpun terjadi

Ciah…Ikan terbang meloncat kepiring

Hia…Kutangkis dengan jurus Buaya keroncongan sehabis bersemedi seratus tahun

mmm…sapu jagat tebar pesona diatas cakrawala

sss…Lubang hitam menjelma menjadi lubang angin. Tu..u..u..t.

Kulihat Mr Kontrak senyum-senyum sebelum pergi, begitu juga dengan Mrs Kontrak yang datang kira-kira satu menit setelah kepergian Mr. Kontrak. Kupikir mereka sempat berpapasan dipekarangan rumah kosku. Semoga saja dunia persilatan tidak lahir dipekaranan yang sempit itu. Aih… itu kan urusan mereka, ngapain pikirin? kayak tidak punya kerjaan saja. Lah saya kan sebentar lagi kehilangan pekerjaan!.

Masih menurut kabar angin. Kejadian-kejadian lucuh dan aneh banyak terjadi. Lucunya kira-kira sama persis dengan wajah mereka pada kartu undangan yang kuceritakan tadi, anehnya Mr. dan Mrs Kontrak yang selama ini dikenal sebagai Icon harmonis kompleks, tiba-tiba saja terlibat gontot-gontotan yang luar biasa sengit. Semua orang jelas saja pada bertanya-tanya, yang ditanya pun bertanya pula, tidak terkecuali saya. Ah…, timbul pula ide untuk menamai kompleks tempat saya tinggal dengan nama Kompleks Tanya. Mau tanya apa? Silahkan. Mau tanya siapa? Monggo. Apa dan siapa saja boleh! Yah…Negara kita kan Negara demokrasi.

Beberapa minggu setelah masa uring-uringan Mr dan Mrs Kontrak selesai, kabar angin berhembus sedap kerumah kontrakanku. Mr dan Mrs. Kontrak membatalkan “Kontrak Lima Tahun” mereka dengan alasan yang sepeleh. Mereka tidak terpilih oleh kontrak, tentunya secara otomatis kontrak keluarga yang sempat terhenti selama beberapa hari kembali berlaku. Itulah hebatnya Mr dan Mrs Kontrak, apa saja adalah kontrak. Barangkali lewat depan rumahnya pun harus ada kontrak terlebih dahulu. Mau ngobrol harus kontrak dulu, terlebih lagi kalo mau dekatin putrinya.

Kocaba menghibur mereka dengan kontrak yang lain (maksudku, kontrak dengan putrinya yang sempat terbahas beberapa hari yang lalu) berharap supaya keceriaan mereka tidak tenggelam kedalam jurang kekecewaan, hitung-hitung kelak dapat tumpangan gratis dirumah mereka. Ternyata!, saya ditepis seperti seekor lalat dengan telunjuk Mr dan Mrs. Kontrak. Duh…betapa kecilnya saya dihadapan mereka.

Kutanya tentang Fit & Propertis, sebab kulihat putrinya tampak senyum-senyum padaku. Jelas saja senyum-senyum!, wajah kece seperti Leonardo Decaprio ini, Siapa sih yang tidak kesemsem?. Ehem…Bukannya muji diri lo…! tapi faktalah yang berkata demikian. Lebih dan kurangnya, saya adala seorang pejantan tangguh. Rambo yang tenar dan tangguh itu tentulah tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan saya (wong saya memang tidak memiliki apa-apa yang dapat disbanding-bandingkan dengan Rambo yang berwajah sangar dengan otot-otot berurat mirip parieses itu).

Kulihat keadaan sepertinya sudah tidak berpihak padaku, kutinggalkan saja mereka sambil menertawakan diri sendir. Hampir saja nama saya berubah menjadi Sir. Kontrak. Untung saja, usulan kontrak saya tidak diterima

Hua…ha…ha. eh!,

Uhuk…uhuk… sepertinya ada nyamuk yang menyelinap kedalam mulutku.


Saran-saran
1. Bagi para buruh kontrak, terus berjuang tanpa kenal letih dalam mempejuangkan nasib-nasib anda, sory kawan! saya hanya mampu membantu secara moril, soalnya nasib saya (tinggal satu bulan lagi status saya adalah pengangguran) jauh lebih menghawatirkan ketimbang saudara-saudara proletar sekalian. Hidup proletar!

2. Bagi yang gemar melakukan kontrak, lihat-lihat dong sikon-nya. Tapi jangan marah yah?, jikalau saya memanggil ada sebagai Mr. atau Mrs Kontrak.

3. Ter-untuk buat Mr dan Mrs Kontrak, ketika mau mengadakan kontrak, Please…Undang saya dong!, siapa tau saja suasana kontraknya tidak jauh beda dengan suasana lelang-melelang. Saya kan juga punya kesempatan yang sama dengan anda untuk melelang sesuatu yang berharga pada diri saya. Persoalan apa yang mau dilelang kan terserah orangnya mau lelang apa?. Hidup demokrasi!

4. Bagi yang pusing (takut kalah) sampai harus uring-uringan. Jangan terlalu ribut dong!, bisa-bisa anda ditertibkan oleh mang hansip berbaret jengkol. Senyumnya silau dari kejauhan, terlebih lagi bicaranya menusuk-nusuk seperti jarum. Apalagi tangannya itu loh, ampun deh! Kasarnya amit-amit

5. Ah…bagian ini yang paling penting. Bagi para saksi kontrak, buka mata anda lebar-lebar dong!, jangan terlalu sering berkedip-kedip. Obat tetes mata mahal harganya!.




Minggu, 07 Juni 2009

Puisi "Uang"

Uang

Uang terlipat, lidah terlipat-lipat
Uang terselip, sigundul terselip-selip
Uang berkata, “tua bangka” bebas praktek anatomi
Uang berkuasa, Inguspun dijilat-jilat
Uang ditakar, Tikus-tikus menakar jarak
Uang dipilah, Dasi-dasi ikut memilah
Uang cair, Sayang tak mengucur kebawah melainkan keatas
Uang berhamburan, Sayang lidah tak berhambur
Uang leyap, mataku kok kililipan…!
Malang, 21-02-09

Apa Kata Dunia

Apa Kata Dunia

Apa Kata Dunia...?
Masa muda poya-poya, masa tua sejahtera

Apa kata dunia...?
Bujang lapuk dimakan usia, pertanda tak laku

Apa kata dunia...?
Perawan tak dibelai, pertanda kembang layu sebelum mekar

Apa kata dunia...?
Angin pelosok bertiup, muda-mudi berkomedi “manusia kolot”

Apa kata dunia
Orang-orang bilang aku harus beli baju baru, celana baru, topi baru, sandal baru, sepatu baru,…..gaya rambut baru…. semua yang serba baru.

Apa kata dunia...?
Aih....Malu aku dikata ngak gaul

Apa kata dunia...?
Bisakah kau berkata “Makan itu kata dunia!, biar ia jadi tahi dan membusuk”

Minggu, 31 Mei 2009

Stigma dan Diskriminasi terhadap ODHA

Dilema Munculnya Stigma dan Diskriminasi terhadap ODHA
Ditengah-tengah Perang Melawan Penyebaran Virus HIV/AIDS


(oleh: Sudarno)

“Setiap orang tidak pernah bercita-cita untuk menyandang stigma, dan tiap-tiap orang benci menjadi objek diskriminasi”


Stima dan diskriminasi tidak hanya melanda orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA), akan tetapi juga melanda persepsi masyarakat terhadap HIV/AIDS itu sendiri. Gejala itu dapat dideteksi dengan adanya kelambanan dalam penyerapan tranformasi informasi terkait dengan HIV/AIDS. Contoh konkret; adanya keengganan untuk memeriksakan diri kepada petugas kesehatan serta meminta informasi yang memadai terkait dengan HIV/AIDS.

Takut sekiranya jika hasil tes menunjukkan hasil positif. Malapetaka seperti apa yang akan menjemput jikalau hal seperti itu benar-benar terjadi?. Kelak, seperti apa kehidupannya dalam keluarga, komunitas, dan masyarakat?. Seperti apa pandangan masyarakat terhadapnya?. Bagaimana dengan nasib karirnya?. Tentunya ada banyak lagi deretan pertanyaan yang jika semakin dicoba untuk dijawab, perasaan ngerih justru akan semakin akut menggerogoti.

Munculnya perlakuan negativ bagi ODHA jelas lahir bukan karena sesuatu yang tanpa dasar dan tidak beralasan. Disamping itu, bobot hukuman sosial berupa stigma dan diskriminasi bagi ODHA, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan dan menular lainnya.

Jika dikaji secara konperhensib, ada beberapa faktor yang menjadi pemicu munculnya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Dalam hal ini, adanya pandangan miring terhadap HIV/AIDS menjadi polemik tersendiri beserta sejumlah kerumitan-kerumitan tertentu bagi masyarakat.


Opini masayarakat yang menyimpang
Fakta membuktikan; “HIV/AIDS adalah penyakit mematikan” dan “Belum ada obatnya”. Kedua model opini tersebut ibarat momok borok bagi masyarakat dalam mensikapi HIV/AIDS itu sendiri. Tidak tanggung-tanggung, dapak buruk atas opini tersebut mengarah secara langsung terhadap munculnya sikap devensif dan tertutup dari masyarakat.

Fakta memang harus disampaikan kepada masyarakat tanpa harus ditutup-tutupi sebagai sebuah upaya edukasi. Namun justru fakta itulah (HIV/AIDS adalah penyakit mematikan dan belum ada obatnya) yang memunculkan kondisi dilema bagi masyarakat. Pada satu sisi, masyarakat diajak untuk memerangi HIV/AIDS, dan pada sisi yang lain, ODHA sebagai manusia seutuhnya hidup ditengah-tengah masyarakat sambil menyandang suatu penyakit (borok) dalam tubuh mereka yang dibenci dan semestinya diperangi oleh masyarakat.

Efek Informasi yang tidak berimbang
Transformasi informasi yang tidak berimbang adalah motif utama timbulnya efek buruk bagi ODHA serta adanya pemahaman yang salah kapra terhadap HIV/AIDS itu sendiri. Ditengah hingar-bingar usaha memobilisasi masyarakat dalam memerangi penyebaran dan penularan HIV/AIDS, upaya-upaya edukatif justru cenderung tidak mampu mengimbangi gencarnya propaganda itu sendiri. Masyarakat tidak memiliki akses informasi yang berimbang dan memadai tentang apa sesungguhnya HIV/AIDS itu.

Siapa pun selama ia adalah manusia normal seperti manusia pada umumnya, jika diperhadapkan dengan perkara (penyakit) yang bersangkut-paut pada kematian. Pastinya, sikap yang akan muncul adalah kengerian pada tingkatan tertentu. Apalagi jika penyakit itu terbukti belum ada obatnya ­­-- ditengah pesatnya kemajuan teknologi dibidang kesehatan saat ini.

Propokasi memang sangat dibutuhkan sebagai tindakan preventif, ditengah meningkatnya kasus inveksi virus HIV dan semakin bertambahnya korban yang meninggal dunia akibat ganasnya penyakit AIDS akhir-akhir ini. Namun selain propokasi untuk menarik perhatian masyarakat. Upaya-upaya edukatif tentunya harus dilakukan segencar dengan upaya-upaya propokatif yang telah diambil.

Dalam hal ini, perlunya transformasi informasi yang berimbang. Jika masyarakat selalu saja dicecoki tentang kengerian HIV/AIDS tanpa adanya langkah-langkah yang mengarah pada penciptaan pemahaman yang memadai tentang HIV/AIDS itu sandiri, maka yang timbul adalah masyarakat paraboid – masyarakat yang menutup diri. Parahnya lagi jika mereka telah tertular, namun kenyataan itu tidak mereka ketahui.

Aspek Media
Perkembangan pesat IT dewasa ini sangat menggembirakan, informasi dapat disebar dan diakses dengan muda oleh masyarakat tentunya dengan biaya yang cenderung semakin murah dari waktu-kewaktu. Batas teritori, jarak dan waktu seakan diterjemahkan ulang kedalam suatu rumusan -- rumusan maya dan kecepatan.

Seseorang dapat menjadi pahlawan/dipuja-puja hanya dalam waktu yang singkat dan demikian pula sebaliknya, pahlawan dapat dibenci dan dicaci dalam waktu yang singkat pula. Kenyataan ini adalah wujud eksistensi dari media saat ini.

Fakta bahwa HIV/AIDS sangat mematikan dan belum ada obatnya adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Namun ketika fakta tersebut bersentuhan dengan media, maka perlu ada unsur penyeimbang yang menyertai supaya kesadaran masyarakat tentang HIV/AIDS lahir bukan atas dasar hysteria, melainkan sesuatu yang benar-benar lahir dari nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.

Harapan utamanya, media cukup mampu kompromistis dalam memerangi stigma dan diskriminasi yang terjadi selama ini. Media memiliki peran yang pital dalam penghapusan stigma dan diskriminasi -- Mendorong masyarakat untuk mensikapi permasalahan ini secara wajar dan bertangungjawab.

Secara wajar adalah; mengajak masyarakat supaya tidak tertular atau terinfeksi. Bertanggungjawab dengan cara tidak mendiskreditkan mereka-mereka yang telah tertular/terinfeksi. Masyarakat dewasa ini cenderung terlalu berlebihan dalam ekspresi membentengi diri.

Aspek Moral
Saat ini, tantangan utama dari para petugas kesehatan adalah; masyarakat mengalami ketakutan untuk memeriksakan diri. Jangan-jangan mereka telah tertular oleh virus mematikan itu?. ada ketakutan tersendiri yang menghantui masyarakat sehingga enggan melakukan pemeriksaan kepada pihak berwajib. Padahal sebetulnya sikap seperti inilah yang paling merugikan, tidak hanya bagi individu tersebut, melainkan juga bagi keluarga, dan bahkan bagi lingkungan dan masyarakat secara keseluruhan.

Perlu dipahami. Meskipun tes menunjukkan hasil positif, tidak serta-merta menjadikan segalanya telah berakhir. Epidemi HIV jika ditangani sejak dini dan dengan cara yang benar justru akan menghindarkan pasian dari perkembangan virus (HIV) menuju pada stadium AIDS yang beresiko pada kematian. Menghindarkan pasien dari kematian, terlebih lagi keluarga dan orang-orang terdekat yang dicintai.

Masyarakat terlanjur meng-amini bahwa HIV/AIDS adalah penyakit yang diakibatkan oleh hubungan sex, penyakit yang timbul dari perilaku sex bebas dan konsumsi yang menyimpang atas obat-obatan terlarang (Narkoba). Padahal sebetulnya HIV/AIDS juga menjangkiti manusia yang sama sekali bukan dari golongan free sex dan pengguna narkoba. Ada juga manusia yang berperilaku baik, normal, dan tidak menyimpang (terhindar dari perilaku beresiko1) justru tertular virus HIV.

Kasus seperti itu dapat terjadi di karenakan pemahaman yang sangat minim tetang HIV/AIDS itu sendiri. Korban yang paling banyak dalam golongan ini adalah bayi yang tertular dari orang tuannya, dimana orang tua tersebut tidak tahu menahu jikalau didalam tubuhnya terdapat virus yang sangat mematikan. Perkosaan -- salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan juga dapat menjadi motif terjadinya penularan. Dan sejumlah motif lain yang semestinya telah dipahami oleh masyarakat.

Purlu dipahami bahwa; tidak semua ODHA adalah pelaku seks bebas, pengguna Narkotika, dan pelanggar norma. Sabaliknya, tidak sedikit pula dari mera yang menjadi korban adalah orang-orang yang berperilaku baik dan taat norma. Masyarakat harus diajak berdialog dalam hal ini.

Menolak suatu pertalian (pengucilan, pelecehan, dan kekerasan fisik maupun non-fisik) hanya karena alasan HIV/AIDS, tentunya sikap seperti inilah sebagai bukti nyata akan adanya sikap dan tindakan diskriminasi -- Sikap tidak bertanggungjawab yang hanya berdasar pada ego dan pemahaman yang salah serta menyimpang.

Aspek kultural
Propaganda yang melupakan kondisi rill dan sosiologis masyarakat, tentunya adalah propaganda pepesan dan kosong belaka. Dalam budaya dan kondisi sosiologis ketimuran (ex; Indonesia), pembahasan tentang perkara sex adalah hal yang masih tabu jika dibandingkan dengan masyarakat barat yang telah melalui moderenitas yang sedemikian rupa -- tentunya dengan dasar budaya yang berbeda pula.

Vulgar dalam membahas persolan sex cenderung akan berbenturan dengan reaksi publik yang kadang-kadang berujung pada tindakan kekerasan pada tataran tertentu. Oleh karena itu perlunya aspek pendekatan culture approach dalam memprovokasi dan mengedukasi masyarakat tentang HIV/AIDS.

Kondom adalah contoh kasus yang paling konkrit. Bagi Barat, kondom adalah alat Bantu untuk menghindarkan masyarakat dari penyakit menular dan mematikan seperti HIV/AIDS dan penyakit-penyakit kelamin menular lainnya. Namun bagi Timur (Indonesia), kondom tidak serta merta dapat dipahami dalam konteks seperti itu.
Ketika ATM kondom diberlakukan, maka yang terjadi adalah reaksi masyarakat yang cenderung naik pitam dan merasa terlecehkan dengan adanya mesin tersebut. Kondom dipandang sebagai icon seks bebas. Apakah tradisi Barat telah benar dan Timur salah dalam hal penyikapan itu?. Tentunya tidak!. Barat memiliki keragaman dan keunikannya sendiri. Demikian pula dengan Timur (Indonesia) -- punya keragaman dan keunikannya sendiri.

Persolana krusial yang patut diperhatikan dalam permasalahan ini adalah; Dengan cara apa?, supaya trasformasi informasi (HIV/AIDS) yang disampaikan kepada masyarakat dapat mereka terima tanpa merasa terinjak-injak harkat dan martabatnya. Tentunya, bukan dengan cara menakut-nakuti sembari mengharap agar perhatian mereka terkait pada mata kail ketakutan.

Aspek pemerintah
Stigma dan diskriminasi yang terjadi diberbagai lini masyarakat berupa; tingkat individu, komunitas, masyarakat, institusi, dan opini di berbagai media. Sesegeramungkin dilakukan klarifikasi. Pemerintah dalam hal ini sebagai faktor penentu.

Menghapus diskriminasi tidak cukup dengan mencegah penularan, perawatan serta dukungan moril bagi yang telah terinveksi. Namun tindakan-tindakan yang tidak kalah penting adalah mengajak masyarakat untuk merubah persepsi salah tentang HIV/AIDS yang selama ini dianut oleh mereka. Semua itu hanya dapat dicapai dengan adanya politik-kesehatah yang jelas, berupa kebijakan dan inplementasi yang tepat.

Edukasai
Kasadaran masyarakat adalah kunci utama; objek nyata yang seharusnya menjadi objek perang adalah penularan virus HIV itu sendiri, bukan terhadap ODHA yang menjadi korban HIV/AIDS. Mendorong masyarakat terkait dukungan moril bagi mereka yang telah terinfeksi (ODHA) sebagai bentuk kepedulian sosial. Sekurang-kurangnya membantu mengurangi beban moril yang mereka emban.

Adanaya bimbingan konseling bagi masyarakat; memosisikan masyarakat sebagai bagian integral dari pencegahan, penularan, dan penanggulangan HIV/AIDS. Tentunya, persoalan seperti apa masyarakat memandang HIV/AIDS? dan Sejauh mana pemahaman masyarakat tentang HIV/AIDS?, kedua persoalan ini harus dituntaskan terlebih dahulu sebagai syarat mutlak.

Pemahaman yang salah terhadap HIV/AIDS justru menjadi penghambat utama upaya penanggulangan terhadap HIV/AIDS itu sendiri.

Labels